Seminggu lagi Galang, kamu harus siap dan yakin. Orang-orang bilang menikah merupakan saat-saat yang paling membahagiakan. Apa benar ya? Masalahnya aku tidak merasa, atau belum – entah- bahagia. Padahal hari pernikahanku dan Lila tinggal seminggu lagi. Aku takut. Bimbang. Apa sebenarnya aku yakin dengan Lila? Apa aku sudah memilih seorang wanita dengan baik dan benar? Apa Lila benar-benar tipe wanita calon istriku? Arghh..tolol!! Kenapa pertanyaan ini baru datang sekarang? Tidak tiga bulan lalu saat aku memutuskan untuk melamar Lila! Lalu apa yang ada di pikiranku saat itu sampai aku memutuskan untuk melamar Lila? Yang tentu saja dibalas dengan senyum yang amat manis dan anggukan kepalanya yang begitu yakin.

Setelah tiga bulan lalu, aku mulai merasa ada yang aneh di hatiku. Aku seperti tidak yakin. Aku gamang. Aku bimbang. Melewati hari-hari menentukan tanggal pernikahan, memesan tempat resepsi, mencari katering yang bonafid, mendata undangan, mencoba baju pengantin, mencetak surat undangan, hingga mengirimkan surat-surat tersebut sebulan lalu, aku tidak pernah, atau belum – entah – merasa bahagia seperti layaknya calon pengantin.

Orang bilang itu cobaan. Orang bilang itu biasa sebelum pernikahan. Kita seperti diuji sejauh mana keyakinan dan kesiapan kita untuk menikah. Dan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya seiring semakin dekatnya hari H. Apa benar? Buktinya, hari pernikahanku tinggal seminggu lagi tapi aku tidak, belum – entah – yakin dan bahagia.

Kubuka lagi undangan pernikahanku. Tertera namaku, Galang Satrio Yudhatama, SE dengan Kalila Prameswari. Maafkan aku Lila, tapi seharusnya nama Pristanti Arkadewi yang ada disitu….

* * *

Seminggu lagi Galang. Pernikahanmu tinggal seminggu lagi. Aku sendiri masih menimbang-nimbang apakah aku akan datang atau tidak. Aku takut tak sanggup melihatmu bersanding dengan Lila. Aku tidak bisa membayangkan hari-harimu yang akan kamu lewati bersama Lila seumur hidupmu. Apa kamu bahagia Galang?

Enam tahun lalu, kita sedang bahagia-bahagianya Galang. Aku jatuh cinta padamu, begitu pun sebaliknya. Rasanya tak ada kata-kata yang indah selain ucapan cintamu padaku. Saat itulah aku merasakan saat-saat terindahku bersama pria terbaikku. Namun, setelah empat tahun berlalu, dia datang. Merusak semua hari-hari indahku. Hari-hari indah kita. Dia mendekatimu tanpa peduli kamu sudah memiliki aku. Dan entah mengapa kamu goyah Galang. Kamu memutuskanku dan pergi dengan wanita itu! Setelah empat tahun Galang! Aku benci kamu Galang! Aku benci wanita itu. Aku benci Lila!!

Aku rapuh Galang. Seperti tak punya semangat hidup. Aku tak bisa melepas bayangmu. Aku tak punya lelaki selain kamu. Aku rapuh…Hari itu aku bersimpuh menangis membaca undangan pernikahanmu. Kamu bahagia Galang? Aku sangat yakin kamu sebenarnya tidak bahagia. Kamu seharusnya bahagia bersamaku!!

Kubuka sekali lagi undangan pernikahanmu. Tertera namamu, Galang Satrio Yudhatama, SE dengan Kalila Prameswari. Seharusnya bukan nama Lila yang ada disitu, tapi namaku, Pristanti Arkadewi.

* * *

Seminggu lagi Galang. Hari pernikahan kita tinggal seminggu lagi. Aku sepertinya tak sabar untuk segera melewatinya dan menjadi Ny. Galang. Kamu juga pasti sudah tak sabar ingin menjadi suamiku, kan? Galang, aku begitu bahagia…

Dua tahun lalu kita bukan siapa-siapa. Tiba-tiba aku bertemu denganmu dan entah mengapa langsung jatuh cinta. Dan kamu tahu betapa kecewanya aku ketika tahu bahwa kamu sudah punya pacar, Anti. Entah apa yang merasuki pikiranku waktu itu sampai-sampai aku berpikir untuk mendapatkanmu bagaimana pun caranya, tak peduli dengan Anti. Aku pikir, sah-sah saja selama kamu masih pacarnya dan bukan suaminya. Aku ambisius. Aku egois. Ya begitulah, aku mendekatimu siang malam. Berusaha untuk terus hadir di kehidupanmu. Dan usahaku berhasil. Kamu berpaling dari Anti. Aku dapatkan yang kuinginkan, kamu, Galang Satrio Yudhatama.

Seminggu ini aku benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Aku ingin acara pernikahan kita berjalan dengan lancar. Aku ingin merasakan saat-saat terindahku dengan pria terbaikku. Aku benar-benar tak sabar. Aku sungguh mencintaimu sepenuh hati…

Kumematut diri di depan cermin dengan kebaya pengantin biru mudaku. Itu warna kesukaan Galang. Aku cantik. Kubuka sekali lagi undangan pernikahan kita. Tertera namamu Galang Satrio Yudhatama, SE dengan Kalila Prameswari. Undangan yang sempurna…..

Melisa Bunga Altamira
6 Oktober 2008 ; 21.54