Jangan bohong. Anda pasti pernah merasa tidak puas pada diri Anda, Betul kan? Mulai dari hal kecil seperti jerawat dan bercak hitam di kulit sampai merasa terlalu gemuk atau bentuk pinggul yang tidak indah. Mengakulah. Ayo.. Jangan biarkan saya sendiri yang mengangguk.

Betul sekali. Saya cukup sering memprotes dan mempertanyakan pemberian Tuhan pada saya. Rambut ikal khas surai singa, bentuk badan tak seindah Donna Agnesia, warna kulit yang sebelas dua belas sama Whoopie Goldberg, sampai besar kaki yang menyamai Michael Jordan. Duuhh..saya dulu repot menata rambut, gimana caranya biar terlihat rapih dan halus sedikiiitt saja. Saya juga repot cari baju yang bagus. Bagus disini artinya merampingkan tubuh saya. Saya juga susah cari sepatu perempuan model flat shoes atau high heels. Jarang banget yang jual sepatu perempuan sampai ukuran 41 atau 42. Kadang 40, tapi banyak yang 40 standar mini. Tetap saja gak muat. Huuhh..

Sebuah hal yang antara wajar dan tidak wajar. Wajar, namanya juga perempuan. Pasti ingin tampil cantik dan sempurna. Paling gak buat yang termakan iklan media massa, ukuran badan mereka minimal se-Cut Tari-lah. Dan jangan sampai seperti Obelix. Tapi kemudian menjadi suatu yang tidak wajar, ketika ketidakpuasan perempuan kemudian menuntun mereka melakukan hal-hal mahal namun beresiko. Perempuan-perempuan ini kemudian rela mengeluarkan uang puluhan juta bahkan sampai ratusan juta rupiah hanya demi hidung semancung Cathy Saron dan payudara setara Pamela Anderson. (Entah) sisi positif yang bisa diambil mungkin berkah rezeki dokter bedah plastik. Coba hitung dan sebut siapa saja role model kita yang melakukan operasi plastik demi ‘menyempurnakan’ tubuhnya.  Ketidakpuasan pada kondisi tubuhlah dorongan utamanya.

Saya sendiri tidak tahu harus berkomentar apa. Saya hanya berpikir, mereka kok gak takut ya badannya diisi silikon? Mereka kok gak takut yaa nanti kalo operasinya gagal dan malah jelek? Mereka kok gak mikirin ya efek jangka panjangnya? Dimana pemikiran mengenai kesehatan mereka? Dimana rasa bersyukur mereka akan kesehatan dan kesempurnaan fungsi tubuh yang mereka miliki? Saya yakin, silikon sekarung tidak akan pernah bisa menggantikan nikmatnya kesehatan jikalau sudah bocor. Intinya, bukankah yang terpenting itu sehat? Bersyukur Tuhan masih memberikan mereka hidung yang berfungsi normal, payudara yang berbentuk normal, bersyukur semua anggota tubuh mereka masih berjalan sesuai fungsinya.

***
Saya dicolek Tuhan (Facebook : Tuhan Poke Melisa Bunga Altamira). Saya dituntun mendatangi dua buah tempat yang kemudian membuat saya belajar bersyukur atas tubuh saya. Merubah pemikiran saya terhadap keluhan dan protes pada diri saya. Bersyukur bahwa sampai usia ini saya sehat. Semua anggota tubuh saya berbentuk, berkembang, utuh dan berfungsi normal.

Tempat pertama adalah Wisma Tuna Ganda, Palsigunung. Seperti namanya Tuna Ganda, wisma ini menampung orang-orang dengan cacat ganda. Fisik dan mental. Saya lihat bagaimana mereka sangat bergantung pada para pengasuhnya. Apa sebab? Bagian tubuh mereka tidak berfungsi normal. Mulai dari otak, syaraf, tangan, kaki, mata, dll.

Hanya bisa berbaring di tempat tidur, semua aktivitas harus dengan bantuan. Saat itu paling tidak saya bersyukur saya bisa jalan, saya gunakan otak saya untuk mengatur kaki saya. Selain kedua organ itu, sampai saat ini saya bersyukur semuanya masih berfungsi baik. Saat itu saya tidak mau mengeluh lagi perihal ukuran tubuh, pinggul, sepatu, hingga baju. Saya berterimakasih pada Tuhan bahwa saya masih sempurna. Saya sempurna. Iya betul saya sempurna!

***
Ini tempat kedua saya. Sebuah rumah sakit rujukan terbesar di Indonesia. Familiar? Kenapa tempat ini? Saya kini bekerja di sebuah institusi pendidikan yang bekerja sama dengan rumah sakit ini. Jujur saya belum pernah mengunjungi sebelumnya (atau sudah pernah tapi lupa). Tapi hari itu saya harus.

Saat itulah saya bertemu dengan seorang anak. Sebut saja namanya Anggrek. Usianya sepertinya sekitar 10 tahun. Namun badannya kurus. Saya sempat perhatikan beberapa detik dan saya kemudian merasa bahagia atas keadaan diri saya. Bayangkan di usia yang masih kecil Anggrek sudah harus dibantu nafas dengan selang. Kepalanya botak. Saya yakin, jika saya tawarkan rambut khas surai singa ini, Anggrek tidak akan menolak. Tidak banyak perempuan yang suka kepalanya tidak berambut.

Anggrek juga sulit berjalan. Terseok-seok. Mungkin kalau ibunya tidak telaten dan tidak mau menuntun anaknya, saya yakin Anggrek pasti jatuh. Di waktu yang singkat tersebut saya juga sempat lihat mata sayu Anggrek. Entahlah mungkin dia lelah. Menjalani serangkaian pengobatan yang dirasa terlalu berat. Atau mungkin menahan sakit. Untuk kesekian kalinya saya mengucap syukur dalam hati. Bukan untuk rambut surai singa saya, tapi untuk kesehatan saya.

***
Itu baru masalah rambut. Beberapa waktu kemudian, saya berkunjung lagi ke rumah sakit itu. Kali ini saya bertemu seorang laki-laki. Saya perkirakan usianya tidak jauh dari saya. Paling tua, beda 5 tahun sama saya. Badannya bagus, kulitnya cukup putih untuk ukuran pria, rambutnya lebat. Pria itu juga nampak gembira. Ngobrol dengan entah siapa sambil tertawa. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Tampak tidak ada yang kurang. Saya bahkan sempat terkesima (jangan bayangkan saya melongo kemudian ada efek angin khas FTV). Tapi coba Anda perhatikan lebih seksama lagi. Saya tidak tega. Kaki pria itu hanya satu. Tongkat kruk adalah tumpuannya untuk menggantikan kakinya yang satu lagi. Seketika itu juga, saya berpikir. Biarpun kaki saya hampir sama dengan Michael Jordan, tapi setidaknya masih utuh. Masih lengkap. Dan sampai sekarang berfungsi dengan baik. Tuhan, terimakasih. Sungguh saya tidak bisa membayangkan ada di kondisi pria tersebut.

Oia, satu lagi. Berkaca pada pria itu, menjalani hidup dengan senyum rasanya lebih enteng ya walaupun mungkin kondisi kita sedang tidak baik. He looks okay because of his smile 🙂

***
Ini lain lagi. Seringkali saya mengeluh tentang warna kulit saya, orang-orang bilang kalau warna kulit saya eksotis. Disukai bule-bule. Well, whatever. Yang jelas, saya repot sekali dengan coklatnya kulit saya. Kok kulit saya warnanya gak seputih Arumi Bachsin ya? Salah dimana ya?

Berbagai merk lulur saya coba. Berbagai merk bodylotion saya pakai. Mulai dari yang memutihkan kulit, membuat kulit tampak bercahaya, sampai yang pake pelindung sinar UV. Semua demi apa? Demi warna kulit seputih Shinta. Saya gak mau seperti Santhi.

Tapi apa? Berubah? Boro-boro. Mungkin warna coklat ini sudah akut. Misi saya pun berubah. Saya pake semua body lotion. Saya balur semua lulur, demi kulit yang sehat. Demi kelembaban, demi kehalusan, demi menghilangkan flek, dan demi melindungi kulit dari efek sinar UV. Saya sudah tidak ngoyo putih. Yang penting kulit saya sehat dan bersih. Semua ini sejak saya bertemu Dado (sebut saja begitu).

Dado seorang anak laki-laki yang saya taksir usianya tidak lebih dari 10 tahun. Tapi di usia yang masih kecil itu, hampir separuh badan kulit Dado merupakan bekas luka bakar. Anda tentu bisa membayangkan sendiri bagaimana bekas luka bakar. Begitulah Dado. Warna kulitnya memang jadi tidak rata akibat luka bakar tersebut. Beberapa perban masih terlihat di beberapa bagian tubuhya. Digandeng kedua orang tuanya, Dado meninggalkan rumah sakit. Saya rasa Dado mau tuker kulit dengan saya. Biar coklat (mendekati hitam), tapi Alhamdulillah mulus. Dan sekali lagi. Terimakasih Tuhan.

***
Di agama saya ada nasihat bahwa berantem atau bermusuhan tidak boleh lebih dari 3 hari. Bisa memutus tali silaturahmi. Dosa. Tapi saya punya musuh. Satu. Sudah lebih dari 5 tahun tidak bertegur sapa. Namanya timbangan. Teman-teman mungkin tidak banyak tahu. Kalau saya musuhan sama timbangan. Apa sebab? Saya tidak mau mendengar laporan dari timbangan akan berat badan saya. Melihat angka dan jarumnya saja saya sudah sebal. Alhasil, saya tidak tahu berat badan saya secara angka pasti. Tapi saya sadar saya gemuk. Melebihi batas normal. Entah sudah termasuk obesitas atau belum.

Ceritanya, demi melihat angka kecil di jarum timbangan, saya sempat beberapa kali mencoba mengurangi makanan. Bertahan paling lama cuma satu minggu. Wajarlah kalau sampai sekarang saya masih belum mau bertegur sapa dengan timbangan itu. Angkanya pasti masih besar.

Menjadi gemuk memang tidak mudah. Mulai dari risiko teringan sampai terberat. Teringan misalnya susah cari baju. Terberat misalnya jika ia diledek habis-habisan di lingkungannya sampai mengalami kemunduran kemampuan bersosialisasi. Trauma diledek menurut saya bisa menjadikan seseorang menjadi sangat minder dan memilih untuk tidak banyak bersosialisasi. Malu jadi bahan ejekan. Kekerasan verbal ini juga bahaya. Efeknya bisa tidak terduga. Yang saya alami hanya risiko teringan. Susah cari baju. Untung ibu saya hebat. Beliau bisa menjahit. Jadi, beberapa baju saya adalah hasil jahitan beliau. Pas di badan dan limited edition 😛 Kekerasan verbal saya alami tapi tidak terlalu parah. Tidak sampai membuat saya menjauh dari pergaulan. Menutup diri atau bahkan sampai trauma.

Semakin bertambah umur saya, semakin saya bisa berpikir positif tentang berat badan saya. Antara pasrah dan percaya pemberian Tuhan pasti indah, saya tidak ngoyo ingin punya badan sekecil Cut Tari. Saya bandingkan diri saya dengan Rose. Seorang gadis yang berusia sekitar 15 tahunan. Saya tidak tahu ia sakit apa. Yang jelas tubuhnya benar-benar kurus. Pernah dengar idiom ‘hanya tulang berbalut kulit’? Itulah gambaran yang sangat amat tepat untuk Rose. Saya rasa tubuhnya sudah benar-benar tidak berdaging. Bisa dilihat dengan sangat jelas bentuk tulang-tulangnya. Betul, Rose memang sudah tinggal tulang berbalut kulit. Badan kurus, mata sayu dan celong, kulitnya pun pucat, rambutnya tipis, tidak terpancar aura semangat dari matanya. Ia hanya tertidur di kasur dorong. Dua suster mendorongnya menuju entah kemana.

Kesekian kalinya saya benar-benar ingin kirim surat kilat khusus pada Tuhan. Menuliskan betapa besar rasa terima kasih saya atas kesehatan yang saya miliki. Atas semua bentuk tubuh yang berjumlah dan berfungsi normal. Untuk kali ini, Rose pasti ingin menukar semua bagian tubuhnya dengan tubuh saya. Mulai dari rambut, kulit, berat badan, sampai dengan kesehatan saya. Dan mungkin juga lemak saya. Khusus untuk lemak, ambil sebanyak yang kamu mau, Rose.

***
Pertemuan saya dengan mereka membuat saya berpikir untuk terus bersyukur. Terutama atas kesehatan saya sampai saat ini. Keutuhan dan kenormalan fungsi tubuh saya. Saya kemudian ingin para selebritis penghamba operasi plastik atau berbagai metode permak tubuh, bertemu dengan orang-orang yang tidak seberuntung mereka itu. Saya ingin mereka berpikir bahwa bagaimana pun ‘tidak sempurnanya’ bentuk tubuh mereka di mata mereka, kesehatan merekalah yang paling utama. Bayangkan punya payudara besar kemudian silikonnya bocor dan menimbulkan penyakit. Apa hal seperti itu yang mereka inginkan? Tidak kan? Bukankah yang penting kita sehat, utuh dan berfungsi normal?

Pepatah pernah bilang bahwa kesehatan itu mahal harganya. Itu betul sekali. Ketika saya sakit flu sedikit saja, saya kemudian menerawang, 3 hari lalu saya sehat enak deh. Sekarang kok hidungnya buntu, gak enak. Makanya sehat itu lebih berharga dari apapun deh. Percaya. Saya tidak ingin menasihati atau menggurui. Tapi saya ingin, mulai sekarang Anda coba lebih menghargai tubuh dan kesehatan Anda. Jikalau pun Anda ingin mengubah bentuk tubuh Anda, sebisa mungkin gunakanlah cara alami. Meminimalisir dampak negatif bagi tubuh Anda. Intinya, kesehatan itu tidak bisa digantikan dengan apapun. I do guarantee. 100%. Cheers 😀