This idiom is so fucking disturbing me! Yes, I’m serious. Perjalanan saya hari ini membuat saya banyak berpikir tentang usia 25.  Kenapa? Ada apa dengan usia 25? Most people says it is about the quarter life crisis, and I think this thought only for woman. Quarter. Seperempat. Kesannya kita bakal hidup sampe 100 tahun. Dua puluh lima adalah seperempatnya. Padahal usia (kebanyakan) tidak sampai 100 kan? Dan justru karena tidak sampai seratus itulah, quarter life crisis makin jadi beban buat kaum perempuan. Hitungannya jadi lebih sedikit. Holy shit!

Saya perempuan. Saya dua puluh lima tahun. Ada yang salah dengan usia ini? Usianya tidak. Tapi besaran angkanya. Perempuan dengan besaran 25 di usianya sudah wajib menikah. Kalau belum menikah, aduuhh..kesannya sudah tua kok belum menikah. Tua? Dua puluh lima sudah disebut tua (atau ketuaan,,terserahlah)

Sesuatu yang sangat kontras. Di dunia yang saya kira sudah semakin maju dan modern ini, saat semuanya berpegang pada digitalize yourself, ternyata masih ada tuntutan bahwa perempuan mulai ditanya-tanya tentang pernikahan ketika menginjak usia 25. Disarankan untuk menikah. Bahkan seorang teman saya bilang, “Demi apa Mba, umur segini lo belum mau nikah? Lo udah tua, Mba!”. Damn, ternyata golongan orang tua standarnya sudah naik drastis, dimulai dari usia 25.

Ini pendapat saya ya. Satu-satunya alasan kenapa perempuan boleh disarankan untuk menikah di usia bawah 30 adalah karena perempuan harus hamil, melahirkan, dan menyusui. Faktor usia memang mempengaruhi kesehatan janin dan ibunya. Namun di dunia kedokteran yang sudah modern ini, faktor usia sudah bisa diatasi dengan teknologi. Jadi, satu-satunya alasan yang paling masuk akal untuk perempuan agar menikah sebelum usia 30 adalah supaya jarak usia antara ibu dan anak tidak terlalu jauh. That’s it! Nothing more.

Ada beberapa prinsip yang saya pegang baik-baik. Prinsip pertama adalah bahwa Tuhan sudah memberikan kita pasangan hidup, satu-satu. Tidak mungkin tertukar. Tidak mungkin salah. Tidak mungkin tidak ada. Jadi sebenarnya apa yang harus ditakutkan? Hal ini membawa saya pada prinsip satu lagi. Bahwa jodoh masing-masing orang tidak selalu datang di usia yang sama. Si A jodohnya datang di usia 23, si B kan bisa saja di usia 27. Tidak mungkin semua orang jodohnya datang di usia 25 kan? Jadi, kalau kita usia 25 belum menikah, ya berarti jodoh kita belum dikirim Tuhan di usia tersebut. Mungkin 26, 27, 28, 30 atau bahkan 40. Bisa saja.

Satu hal lagi yang saya percaya, bahwa jodoh dan cinta akan datang seiring dengan cara yang indah. Jadi kalau ada pernikahan karena ditanya-tanya terus, atau buru-buru untuk “udah deh gw nikah aja”, well…belum tentu jodoh dan cinta lho. Percaya deh, ketika Tuhan sudah menurunkan jodoh kita melalui cinta, perjalanan menuju pernikahan akan terasa ringan, menyenangkan dan dimudahkan.

Ini pendapat pribadi saya juga. Buat saya, menikah bukan sekedar mendengar hadirin berteriak serentak mengucapkan kata “SAH!!”, menandatangani Surat Nikah atau memikirkan nikmatnya malam pertama. Menikah lebih dari sekedar itu. Menikah itu berbagi, mengalah, berkomitmen, melayani, berjanji, dll. Tidak mudah. Harus siap lahir dan batin.

Berbicara kesiapan lahir, mungkin akan lebih mengacu pada materi dan self value. Saya tidak berpikir setiap orang yang menikah harus sudah punya ini dan itu. Yang utama, dia harus punya keinginan bekerja keras. Pertama untuk berjuang membiayai hidupnya, dan yang pasti membahagiakan pasangannya nanti. Untuk perempuan, paling tidak bisa untuk tambahan penghasilan sehari-hari, pegangan untuk kebutuhan tak terduga, kepuasan diri sendiri, dan untuk lebih menghargai suami. Agar perempuan tahu rasanya cari uang. Jadi, ia bisa lebih menghargai suami dan gak marah-marah mlulu kerjaannya kalo suami belum dapet THR, bonus, gaji telat, dll. Saya sepertinya kebanyakan nonton sinetron yang menggambarkan istri marah-marah ke suami yang baru saja pulang kantor, untuk minta uang. Wajar kalau suaminya kesal. Dia pasti sudah berusaha keras, eh sampai dirumah si istri marah-marah. Apa gak sebel tuh? Itu di sinetron, tapi saya yakin di kehidupan nyata juga pasti ada. Jadi intinya, untuk masalah lahir, paling tidak kita tau apa yang kita punya dan bisa direncanakan untuk masa depan.

Kali ini masalah batin. Menikah tidak bisa main-main. Kita berjanji di hadapan Tuhan, Negara, orang tua, saksi dan para tamu untuk hidup bersama dengan pasangan setia sampai mati. Kalau pasangan yang tidak cocok, dipaksakan, atau terburu-buru, saya tidak yakin bisa sampai mati. Jadi, secara batin kita juga harus yakin pada pasangan kita. Dan untuk mendapatkan keyakinan itu diperlukan waktu yang tidak sebentar. Yang sudah merasa yakin dan cocok saja kadang bubar di tengah jalan, apalagi yang menikah karena dijodohkan, dipaksa, dll. Gimana cara mereka meyakinkan hati untuk hidup seumur-umur dengan pasangannya?

Saya perempuan. Saya dua puluh lima. Di usia ini bukan saya tidak berpikir untuk sebuah pernikahan. Saya hanya ingin menikmati masa-masa sendiri saya dulu sebelum saya harus membagi diri saya dengan orang lain. Saya juga ingin menikmati gaji saya seutuhnya untuk diri saya, sebelum saya punya ‘kewajiban’ untuk membeli kado untuk pasangan, sekali-kali keluar budget traktir pasangan, dll. Saya juga masih ingin memberi reward untuk diri sendiri atas apa yang diri saya kerjakan selama ini. Sudah sekolah dan kuliah sampai S1, jangan dikata sekolah itu tidak capek lho. Memang capek yang menyenangkan. Tapi dari hasil saya capek ini, saya ingin berterimakasih dulu untuk saya sudah kuat selama 17 tahun menuntut ilmu. Hasil menuntut ilmu inilah kado saya untuk diri saya sendiri.
Saya juga masih punya keinginan. Mau ini, mau itu. Mumpung saya masih sendiri, saya masih bisa fokus untuk meraih ini-itu tersebut. Dan semoga saja tercapai.

Saya juga tak akan menolak jika dalam perjalanan ini semua, Tuhan kirim saya seorang jodoh melalui cinta. Mungkin sebelum saya bisa raih ini-itu. Tapi tidak masalah jika ternyata memang jodoh saya sudah datang dengan cara yang indah. I just trying to enjoying my beautiful life and let this life flow simply.
***
Saya suka kalimat ini “Don’t be in a relationship minded, be fun!”. Ini tweet teman saya. And I totally agree with her. Why do we always thinking to have a lover? “In-a-relationship” status is kinda most important. Punya pacar tuh harus, wajib! Can we just be fun with our life? There are so many things we should thankful for.

Beberapa kali saya mencoba bersyukur atas status single saya. Banyak sekali cerita kawan tentang pasangannya yang menyakiti. Pasangan yang mengkhianati. Pasangan yang tidak menghargai kawan saya. Saya liat betapa mereka terpuruk, tersiksa, patah hati, hingga kemudian menyalahkan diri sendiri untuk membela pasangannya. Mereka adalah kawan saya yang menurut saya tidak menghargai dirinya sendiri, tidak mencintai dirinya sendiri. Ini masih kata teman saya, “You might be broken heart or feel sad, but don’t be such drama, Love Yourself!”. Yes, that is the point. Ladies, please love yourself. Jangan sekali-sekali berpikir untuk memaafkan seseorang yang menyakiti Anda, fisik maupun verbal. Yang mengkhianati Anda. Ingat ya.. Anda lebih pantas mendapatkan orang lain daripada pasangan brengsek itu. Jadi jangan sekedar karena sudah pacaran lama, merasa gak mungkin ada yang mau lagi, Anda tidak melepas hubungan dengan pasangan brengsek itu.

Saat mereka cerita tentang hal menyakitkan itu, entah kenapa di hati kecil saya merasa, well SINGLE IS BETTER THAN DOUBLE BUT TROUBLE..Paling tidak, melalui kejadian yang menimpa kawan saya, saya tidak mengutuk status single saya.
***
Satu hal yang saya syukuri sampai saat ini adalah tidak adanya paksaan dari orang tua untuk cepat menikah. Mereka hanya mempertanyakan keberadaan pacar. Saya memang tidak punya, lalu kenapa? Dan mereka tidak memperpanjang urusan. Sampai sejauh ini saya tidak terbebani. Terimakasih pengertiannya.

Saya juga bersyukur ketika beberapa sahabat bercerita bagaimana orang tuanya mulai menanyakan tentang pernikahan. Mulai ‘memaksa’ menikah. Mulai mencarikan jodoh. Kemudian menggunakan kata-kata yang cukup menyedihkan. “Lekas menikahlah, Nak. Mumpung mama papa masih sehat”, iya kalau jodoh sahabat saya datang saat itu juga. Kalau memang Tuhan tidak kirim saat itu bagaimana? Jelas jadi , beban untuk sahabat saya.
Lebih menyebalkan lagi ketika orang tua sudah mulai mengenalkan beberapa laki-laki. Alasannya yang penting kenal. Tapi tentu Anda tahu betul maksudnya ke arah mana. Kenal orang baru memang menyenangkan, tapi kalau sudah ada maksud, apa masih tetap menyenangkan?

Yang saya herankan adalah, apakah para orang tua tersebut tahu tindakan mereka tidak akan membantu sama sekali? Justru akan membuat anak mereka menderita dan terbebani. Saya yakin maksudnya baik, namun caranya kurang baik. Biarkanlah anak memilih sendiri pasangan mana yang dirasa cocok dan yakin. Karena bagaimanapun, anaklah yang akan menjalani hidupnya ke depan dengan pasangannya. Dia yang tahu.