Jakarta ternyata masih menyimpan banyak bangunan dan lokasi bersejarah yang tersembunyi di antara gedung-gedung bertingkat nan modern. Tanpa kita sadari, lokasi atau bangunan tersebut mungkin ada di sekitar kita. Beberapa hari lalu, gw mengikuti sebuah tur lokal yang diselenggarakan oleh Walk Indies, salah satu penyedia jasa layanan perjalanan di Indonesia. Mengingat judulnya Walking Tour: Jejak Kuno di Salemba, tentu saja kita berjalan kaki menyusuri beberapa bangunan dan lokasi bersejarah di sekitar Salemba. Lumayan, jarak lebih kurang 6 km kita tempuh dalam 3,5 jam berkeliling jalan kaki.

Titik kumpul ditentukan di halaman Masjid Arif Rahman Hakim yang berada di area UI Salemba. Hari ini sohib seperjalanan gw yaitu Mba Indah, Mba Rizkan, Rini, Mba Aminah, dan Mba Indri. Sekitar jam 8 pagi, gw dan teman-teman sudah sampai di titik kumpul. Di sana, kami disambut oleh dua orang tim Walk Indies yaitu Kak Amel dan Kak Joso. Kak Amel adalah certified tour guide yang akan mendampingi walking tour kami, sementara Kak Joso adalah tour leader-nya. Dalam satu grup perjalanan, hanya maksimal diikuti oleh 12 orang dan grup kami kali ini full 12 orang. Sebelum tur dimulai, tiap peserta dibagikan air mineral, tanda nama, kipas, dan Jakarta pocket map. Wah menarik yaa ????

Ready to walk!

Kipas penyelamat, penanda nama, dan peta Jakarta. Let’s go!

Tepat pukul 08.30, walking tour kami dimulai. Yuk kita telusuri satu per satu destinasi hari ini:

1. FKUI Salemba dan Ex Pabrik Opium
Sebagai salah satu fakultas kedokteran tertua di Indonesia, FKUI memiliki kisah sejarahnya sendiri. Area depan gedung FKUI merupakan bangunan asli sejak 1920. Jika mampir melewati area lobi/drop off, kita akan melihat sebuah batu prasasti yang menandakan dibangunnya gedung tersebut. Pada batu, tertulis tahun dimulainya pembangunan yaitu tahun 1916, dan selesai di tahun 1920.

Peletakan batu pertama pada 1916

Seperti khasnya bangunan Eropa, tepatnya Belanda, gedung FKUI juga memiliki beberapa pilar, jendela ventilasi yang besar, dan kaca patri. Jika diperhatikan, kaca patri tersebut melukiskan lambang kedokteran yaitu ular yang melingkari cawan. Alkisah, lambang tersebut berasal dari filosofi bisa ular, yang bisa berfungsi sebagai racun, dan juga penawar/obatnya.

Berjalan sedikit ke arah ARH, kita akan menemukan sebuah bangunan yang dulunya adalah bekas pabrik opium. Dalam sejarah tertulis bahwa saat masa pendudukan Belanda, opium/candu merupakan salah satu komoditas dagang legal yang menyumbang pendapatan negara cukup banyak. Namun sejak Jepang masuk, penjualan opium dinyatakan sebagai ilegal temporer dan menjadi ilegal penuh setelah Indonesia merdeka. Setelah tidak lagi beroperasi sebagai pabrik opium, ruangan tersebut digunakan sebagai ruang kelas perkuliahan FKUI.

2. Museum MH Thamrin
Setelah selesai di area Salemba, kami mulai bertolak ke Jl. Kenari menuju Museum MH. Thamrin. Jujur sering banget dengar namanya dan lewat jalur Sudirman-Thamrin, tapi kok gak tau kisahnya yaaa… Gw cukup excited pingin tahu seperti apa museumnya. Dan begitu sampai, cukup bikin geleng-geleng kepala ya liat area papan nama petunjuknya agak tertutup ilalang dan tertutup mobil parkir. Area tamannya pun setengahnya dipakai sebagai lokasi senam ibu-ibu. Yauds gapapa lah yaaa, mari kita masuk dan menjelajah saja.

Tertutup ilalang 🙁

Muhammad Husni Thamrin adalah seorang pahlawan Indonesia yang juga mempopulerkan kesenian Betawi. Ia berjuang melalui jalur diplomasi kesenian. Thamrin merupakan keturunan Inggris dari kakeknya yang bernama Ort, pemilik Hotel Ort di Batavia (sekarang hotelnya sudah tidak ada). Ia lahir pada 16 Februari 1894 dari ayahnya yang seorang wedana bernama Thamrin Mohammad Thabrie dan ibunya bernama Moerhamah. Selama hidupnya, M.H. Thamrin aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Volksraad (saat ini DPR).

M.H. Thamrin

Sayangnya, beliau wafat dalam usia yang tergolong muda yaitu 47 tahun. Malam itu, pasukan Belanda datang ke rumahnya untuk menangkap Thamrin yang sedang terbaring sakit. Ia dituduh sebagai agen ganda. Saat disekap, kondisi kesehatannya semakin menurun hingga akhirnya tutup usia. Terdapat dua versi cerita penyebab wafatnya Thamrin, yaitu karena sakit dan diracun.

Salah satu diorama yang menggambarkan suasana penangkapan M.H. Thamrin

Thamrin memiliki dua buah rumah yang berlokasi di Sawah Besar dan Jl. Kenari. Rumah di Sawah Besar merupakan rumah utamanya yang didiami bersama keluarganya. Sementara, sebagai Ketua Volksraad, rumahnya yang di Jl. Kenari lebih banyak digunakan sebagai markas untuk rapat dan koordinasi. Rumah di Jl. Kenari inilah yang dijadikan museum.

Interior museum M.H. Thamrin kental sekali dengan dekorasi khas Betawi. Seluruh barang peninggalan beliau, tertata rapi di ruang pamer. Suasana museum pun nyaman dan sejuk. Oke banget juga buat dikunjungi bareng keluarga.

Betawi punye cerite

3. Ex Stasiun Salemba
Bergeser sedikit dari Museum M.H. Thamrin, kami menuju bangunan bekas Stasiun Salemba. Jujur ya, gw gak pernah tahu kalo di Salemba pernah ada stasiun. Tapi ya kalau diliat kondisinya sekarang, orang-orang juga gak bakalan ngeh kalo sisa-sisa bangunan bekas Stasiun Salemba masih ada. Gimana bisa ngeh kalo sisa-sisa bangunan tersebut sekarang sudah tertutup oleh rumah-rumah penduduk yang super padat. Bahkan ruang yang tersisa pun sudah digunakan oleh tukang fotokopi. Padahal, pintu masuk ruang fotokopi tersebut terlihat jelas bahwa merupakan bekas pintu peron. Kita masih bisa melihat dari agak kejauhan jendela stasiunnya. Yang jadi pertanyaan gw adalah bagaimana bisa sebuah bangunan kuno/bersejarah dijadikan milik pribadi penduduk?

Ada yang bisa menunjuk di mana letak peninggalan Stasiun Salemba?

4. Jembatan Kenari
Lanjooottt, kita menyusuri Jl. Kenari dan tiba di Jembatan Kenari. Jembatan ini dulunya adalah jalur kereta. Namun saat ini sudah berubah menjadi jembatan penyebarangan orang. Relnya sudah gak ada.

Jembatan cantik korban vandalisme

5. Masjid Jami Makmur Raden Saleh
Berikutnyaa, kita lanjut jalan ke Jl. Raden Saleh. Di sini kita mampir melipir ke Masjid Jami Makmur yang dibangun di atas tanah milik Raden Saleh, pada tahun 1930. Saat ini mesjid tersebut termasuk dalam bangunan cagar budaya.

Masjid Jami Al-Makmur

6. Ex Camp Internir di Jl. Kramat
Ketika tantara Jepang masuk, terjadi penangkapan cukup masif kepada penduduk Belanda keturunan Yahudi. Mereka ditawan dalam kamp, terpisah antara perempuan dan laki-laki, yang berada di Jl. Kramat, Jakarta Pusat (khusus perempuan dan anak-anak). Terdapat tiga rumah di jalan tersebut yang dulunya menampung para tahanan. Banyak kisah keluarga yang terpisah, ditinggalkan karena penyakit, hingga proses perpindahan kamp tahanan ke tempat yang cukup jauh. Saat ini dua rumah sudah dimiliki secara pribadi, sementara satu rumah lainnya digunakan sebagai pusat terapi wicara.

Kamp tahanan, saat ini sudah milik pribadi

Kamp tahanan, yang saat ini digunakan sebagai lokasi terapi wicara

Kamp tahanan, saat ini jadi milik pribadi

7. Ex Istana Raden Saleh
Ending point inilah yang membuat gw ternganga-nganga. Gimana gak, RS PGI Cikini (saat ini PRIMAYA Hospital PGI Cikini) yang gw kira ya hanya komplek rumah sakit, ternyata menyimpan sebuah bangunan cantik serupa istana nan megah. Baru diketahui juga bahwasanya bangunan megah nan mewah itu dulunya adalah Istana Raden Saleh. Ya, pemiliknya adalah pelukis kenamaan Indonesia, Raden Saleh.

Bagus banget!

Rumah besar tersebut dibangun pada tahun 1852 dan masih berdiri dengan gagah hingga hari ini. Desain arsitektur yang digunakan merupakan perpaduan gaya Neoklasik (dicirikan dengan pilar), Pseudogotik (memberikan efek megah), Vernakular (menyesuaikan dengan kultur lokal), Moor (terlihat dari beberapa garis lengkung yang ditemukan pada detail rumah), dan sedikit sentuhan Arab-Jawa sesuai garis keturunan beliau. Raden Saleh sendiri yang merancang desain rumah yang ia bangun di atas tanah istrinya sepulang dari Eropa.

Menurut cerita, area rumah Raden Saleh tak hanya meliputi area RS PGI Cikini saja, tetapi juga hingga ke area Institut Kesenian Jakarta dan area Cikini Raya tempat beliau memelihara berbagai binatang, yang kelak diberikan ke Taman Margasatwa Ragunan.

Pelukis kebanggaan Indonesia

Saat ini, pengelolaan area RS PGI Cikini dilakukan oleh Yayasan Kesehatan PGI Cikini Bersama dengan PRIMAYA. Masih dalam satu komplek yang sama juga terdapat sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, yang digunakan sebagai gereja atau kapel.

Kapel yang ada di area RS PGI Cikini

Lokasi ini merupakan lokasi terakhir dari serangkaian perjalanan kami pagi ini. Alhamdulillah, semua lancar aman terkendali. Surely will join another tour offered!