{"id":1084,"date":"2024-01-22T00:37:57","date_gmt":"2024-01-21T17:37:57","guid":{"rendered":"https:\/\/altamira.id\/blog\/?p=1084"},"modified":"2024-01-22T00:37:57","modified_gmt":"2024-01-21T17:37:57","slug":"napak-tilas-sejarah-pendidikan-kedokteran-dan-pergerakan-pemuda-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/altamira.id\/blog\/napak-tilas-sejarah-pendidikan-kedokteran-dan-pergerakan-pemuda-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Napak Tilas Sejarah Pendidikan Kedokteran dan Pergerakan Pemuda di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Hulaaa, <em>my another walking tour route is coming to text hihihihihi<\/em>&#8230;. Masih dalam edisi <em>walking tour<\/em> bersama Walkindies, kali ini gw mau cerita perjalanan bersama mereka dengan judul STOVIA &amp; Boedi Oetomo. Yaa sesuai namanya, kita akan menelusuri sejarah pendidikan kedokteran dan pergerakan pemuda yang tersohor di Indonesia. Kemana ajaa kitaa? Kuyy jalan-jalan \ud83d\ude00<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Museum Kebangkitan Nasional (Gedung ex STOVIA)<\/strong><\/p>\n<div id=\"attachment_1085\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1085\" class=\"wp-image-1085 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4391-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4391-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4391-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1085\" class=\"wp-caption-text\">Selamat datang di Museum Kebangkitan Nasional (Gedung ex-STOVIA)<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Meeting point<\/em> sekaligus lokasi pertama kita adalah Museum Kebangkitan Nasional. Masuk ke Museum Kebangkitan Nasional, kita akan melihat dua sejarah besar yang memajukan peradaban di Indonesia. Pertama, tentang sejarah dan cikal bakal pendidikan kedokteran di Indonesia. Kedua, sejarah kebangkitan pemuda dalam memerdekakan rakyat Indonesia melalui pergerakan organisasi Boedi Oetomo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cikal bakal pendidikan kedokteran di Indonesia dimulai sejak 1849 ketika Sekolah Dokter Djawa berdiri. Saat itu, di beberapa daerah di Pulau Jawa, terutama daerah Karesidenan Banyumas dan daerah sepanjang Pantai utara Pulau Jawa, sedang terjangkit wabah cacar. Gubernur Jenderal saat itu, Duymaer van Twist, lalu menginisiasi pendirian sekolah khusus untuk petugas vaksin yang kelak akan diterjunkan ke daerah terjangkit wabah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak Sekolah Dokter Djawa berdiri, ternyata muridnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, dibangunlah sebuah gedung baru yang berlokasi di sebelah rumah sakit militer (sekarang dikenal dengan RSPAD Gatot Soebroto). Dana pembangunan gedung baru tersebut merupakan sumbangan dari tiga pengusaha asal Belanda sebanyak 178.000 gulden. Pembangunan tersebut akhirnya selesai pada 1898. Nama Sekolah Dokter Djawa pun berganti menjadi Sekolah Dokter Bumiputera atau School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA) dengan H.F. Roll sebagai direktur.<\/p>\n<div id=\"attachment_1086\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1086\" class=\"wp-image-1086 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4421-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4421-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4421-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1086\" class=\"wp-caption-text\">Diorama pembelajaran para murid STOVIA. Dosen mereka kebanyakan didatangkan langsung dari Belanda<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat pendidikan kedokteran dipindahkan ke STOVIA, banyak tokoh dan pergerakan penting lahir di sini. Sebut saja Boedi Oetomo, perintis organisasi pergerakan yang banyak melahirkan semangat dan gagasan untuk memerdekakan dan memajukan pemuda Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Organisasi Boedi Oetomo lahir atas prakarsa Soetomo. Ia kemudian mengajak seluruh pelajar di STOVIA untuk bersama-sama mendirikan Boedi Oetomo, sebuah pergerakan pemuda modern pertama dalam sejarah Indonesia. Tepat pukul 9 pagi, 20 Mei 1908, Boedi Oetomo berdiri dengan susunan kepengurusan yaitu Soetomo (Ketua); Mohammad Soelaiman (Wakil Ketua); Gondo Soewarno (Sekretaris 1); Goenawan Mangoenkoesoemo (Sekretaris 2); R. Angka Prodjosoedirjo (Bendahara); dan Moehamad Saleh, Soeradji Tirtonegoro, Soewarno, Goembrek (Komisaris).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, setelah diadakan kongres pertama di Yogyakarta, struktur kepengurusan diberikan kepada R.A.A. Tirtokoesoemo (Ketua); dr. Wahidin Soedirohoesodo (Wakil Ketua); M. Ng. Dwidjosewodjo (Sekretaris 1); R. Sosrosoegondo (Sekretaris 2); R.M.P. Gondoatmodjo (Bendahara); dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, R. Djajasoebrata, R.M.P. Soerjodipoetro (Komisaris).<\/p>\n<div id=\"attachment_1087\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1087\" class=\"wp-image-1087 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4422-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4422-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4422-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1087\" class=\"wp-caption-text\">Logo Boedi Oetomo<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak hanya cikal bakal pergerakan pemuda, STOVIA juga mencetak dokter-dokter perintis, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Namanya kelak dijadikan nama sebuah rumah sakit terbesar di Indonesia<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Abdul Rahman Saleh. Seorang dokter yang juga penerbang Angkatan Udara, pendiri Radio Republik Indonesia, dan Bapak Fisiologi Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama bandara di Malang. Patung dadanya berada di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Soetomo. Penggagas Boedi Oetomo, pengajar di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS, sekolah dokter pribumi di Surabaya yang kelak menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Achmad Mochtar. Ilmuwan di Indonesia, Direktur pertama Lembaga Eijkman<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Jacob Bernardus Sitanala. Pakar penyakit Kusta di Indonesia, salah satu pendiri Palang Merah Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Tangerang, RSUP Sitanala.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Marie Thomas. Dokter Perempuan pertama di Indonesia. Mengambil spesialis kebidanan dan kandungan, ia juga dokter pertama yang terlibat dalam kebijakan pengontrolan kelahiran bayi melalui metode Intrauterine Device (IUD).<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Anna Adelaine Warouw. Ia masuk dua tahun setelah dr. Marie Thomas. Keduanya sangat dekat dan sering disebut \u201cSi Kembar\u201d. Ia meraih gelar spesialis THT dari Universitas Leiden, Belanda.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten. Profesor di bidang psikiatri Indonesia.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Wilhelmus Zakaria Johanes. Ahli radiologi pertama di Indonesia.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">dr. Sardjito. Rektor pertama Universitas Gadjah Mada. Saat ini namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit RSUP Dr. Sardjito<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"attachment_1088\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1088\" class=\"wp-image-1088 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4467-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4467-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4467-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1088\" class=\"wp-caption-text\">dr. Marie Thomas, pelopor dokter perempuan pertama di Indonesia. Perempuan hebat dan keren!<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semakin banyaknya murid di STOVIA, maka dibangun kembali gedung baru yang berlokasi di Jl. Salemba untuk meningkatkan pendidikan kedokteran di Indonesia. Institusi pendidikan kedokteran tersebut kemudian berganti nama menjadi Geneeskundige Hooge School (GHS) pada 1927. Untuk masuk ke GHS, seseorang harus memiliki ijazah pendidikan minimal setingkat SMA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, Ketika masa pendudukan Jepang yaitu sekitar tahun 1943, GHS berubah nama menjadi Ika Daigaku. Pada 1946, pemerintah Indonesia kembali mengambil alih Ika Daigaku dengan nama Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Namun, pada 1947, Belanda Kembali menginvasi Indonesia dan mengubah nama sekolah kedokteran tersebut menjadi Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie. Hingga akhirnya setelah kemerdekaan RI, tepat pada 2 Februari 1950, Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia dan Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie melebur menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang masih berdiri hingga kini dan telah mencetak ribuan dokter yang berkontribusi dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.<\/p>\n<div id=\"attachment_1089\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1089\" class=\"wp-image-1089 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_2938-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_2938-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_2938-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1089\" class=\"wp-caption-text\">Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cagar Budaya ex Gedung Jaya Gas<\/strong><\/p>\n<div id=\"attachment_1090\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1090\" class=\"wp-image-1090 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4480-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4480-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4480-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1090\" class=\"wp-caption-text\">Gedung Cagar Budaya ex Jaya Gas<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapa yang dulu kalau ke Atrium Senen, makan di resto pizza yang lokasinya di sebuah bangunan terpisah dengan arsitektur khas Belanda? Tahukah kalian jika bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang ada di kawasan segitiga Senen? Kita kembali ke masa sebelum tahun 1945. Saat itu, kawasan Senen merupakan kawasan niaga, khususnya bagi warga keturunan Tionghoa. Untuk mengamankan kawasan tersebut, ditunjuklah Kapitan Wang Seng sebagai kepala daerah tersebut. Bangunan tersebut merupakan rumah tinggal beliau yang telah dibangun sejak abad ke-19.<\/p>\n<div id=\"attachment_1091\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1091\" class=\"wp-image-1091 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4485-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4485-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4485-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1091\" class=\"wp-caption-text\">Penanda Cagar Budaya<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, saat Jepang datang, jabatan Kapitan tersebut dihapuskan. Rumah peninggalan tersebut kemudian sempat digunakan sebagai gedung kantor Jaya Gas, lalu dialihfungsikan sebagai restoran Pizza Hut, dan sekarang digunakan sebagai lokasi kafe kopi milik Risa Saraswati, Jurnal Risa Coffee.<\/p>\n<div id=\"attachment_1092\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1092\" class=\"wp-image-1092 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4487-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4487-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4487-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1092\" class=\"wp-caption-text\">Jajan Seasalt Latte dulu, haus tsay \ud83d\ude1b<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Stasiun Pasar Senen<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah mampir sejenak dan jajan es di Jurnal Risa Coffee, kita lanjut jalan ke bangunan cagar budaya berikutnya yaitu Stasiun Pasar Senen. Stasiun Pasar Senen dibangun dan dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) pada 1887. Stasiun ini melayani rute pertama yaitu Jakarta-Bekasi (1887). Rute berikutnya yang dibangun adalah Bekasi-Cikarang (1890), dan Cikarang-Kedunggede (1891). Saat BOSM akan membangun rute ke empat yaitu rute Kedunggede-Karawang, mereka mengalami masalah finansial. Pemerintah Indonesia pun turun tangan membantu dengan syarat kepemilikan Stasiun Pasar Senen diambil alih oleh perusahaan kereta api negara milik pemerintah yaitu Staatssporwegen (SS). Penyerahan kepemilikan tersebut dilakukan pada 1898.<\/p>\n<div id=\"attachment_1093\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1093\" class=\"wp-image-1093 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4497-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4497-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4497-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1093\" class=\"wp-caption-text\">Stasiun Pasar Senen sekarang udah direnovasi jadi bagus, dan tetep rame banget yaaa \ud83d\ude42<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak hanya itu, Stasiun Pasar Senen memiliki rute tertua yaitu rute Pasar Senen-Malang-Pasar Senen yang sudah dioperasikan secara bertahap sejak 1976, dimulai dari Madiun-Jakarta, Madiun-Blitar, hingga 1983 menjadi rute Malang-Blitar-Madiun-Jakarta (Matarmaja). Stasiun Pasar Senen ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 1993 melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta.<\/p>\n<div id=\"attachment_1094\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1094\" class=\"wp-image-1094 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4511-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4511-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4511-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1094\" class=\"wp-caption-text\">Arsitektur gaya Belanda<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Wayang Orang Bharata<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum bernama Wayang Orang Bharata, paguyuban wayang orang ini bernama Wayang Wong Panca Murti. Dalam beraktivitas, mereka menggunakan Gedung Bioskop Rialto. Seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa anggota yang kemudian memilih untuk mengundurkan diri, dan sebagian masih bertahan.<\/p>\n<div id=\"attachment_1095\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1095\" class=\"wp-image-1095 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4519-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4519-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4519-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1095\" class=\"wp-caption-text\">Wayang Orang Bharata: Jl. Kali Lio No.15, RT.10\/RW.4, Senen, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10410<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagian anggota yang masih bertahan ini kemudian mengajak kolaborasi seorang sutradara film, Djadoeg Djajakusuma, setelah sebelumnya sempat bekerja sama dalam sebuah film pada 1967 dengan paguyuban Wayang Wong Panca Murti. Dari hasil kolaborasi tersebut, Djadoeg kemudian menginisiasi pembentukan paguyuban wayang orang baru bernama Wayang Orang Bharata pada 5 Juli 1972 yang masih aktif hingga sekarang. Paguyuban Wayang Orang Bharata merupakan satu dari sedikit paguyuban seni yang masih aktif di Indonesia. Mereka masih rutin menyelenggarakan pementasan wayang orang hingga kini.<\/p>\n<div id=\"attachment_1096\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1096\" class=\"wp-image-1096 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4522-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4522-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4522-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1096\" class=\"wp-caption-text\">Djadoeg Djajakusuma<\/p><\/div>\n<div id=\"attachment_1097\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1097\" class=\"wp-image-1097 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4530-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4530-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4530-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1097\" class=\"wp-caption-text\">Berminat menonton?<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Taman Wahidin<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sembari berjalan kaki menuju <em>ending point<\/em>, kami melewati sebuah taman kota yang tidak terlalu besar, bernama Taman Wahidin. Sesuai namanya, taman ini dibangun untuk mengenang beberapa tokoh yang terkait erat dengan Boedi Oetomo yaitu dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Soetomo, dan dr. Soeraji. Sayangnya taman ini tidak terlalu bersih.<\/p>\n<div id=\"attachment_1098\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1098\" class=\"wp-image-1098 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4537-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4537-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4537-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1098\" class=\"wp-caption-text\">Patung dada dr. Wahidin Sudirohusodo<\/p><\/div>\n<div id=\"attachment_1099\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1099\" class=\"wp-image-1099 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4541-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4541-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4541-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1099\" class=\"wp-caption-text\">Patung dada dr. Soetomo<\/p><\/div>\n<div id=\"attachment_1100\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1100\" class=\"wp-image-1100 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4543-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4543-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4543-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1100\" class=\"wp-caption-text\">Patung dada dr. Soeraji<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SMKN 1 Boedi Oetomo<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gedung SMKN 1 Boedi Oetomo dibangun pada 1906 dan digunakan sebagai sekolah pendidikan keteknikan dengan nama Koningin Wihelmina School (KWS). Jika kita menyusuri lorong kelasnya, terdapat beberapa kelas yang masih menggunakan kursi yang sama dengan para pelajar STOVIA lengkap dengan interior berundaknya. Tak hanya sebagai tempat belajar, pada 10 September 1945 di gedung ini juga menjadi saksi perumusan Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut yang kemudian menjadi TNI AL. Hingga saat ini, gedung tersebut masih terjaga keasliannya.<\/p>\n<div id=\"attachment_1101\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1101\" class=\"wp-image-1101 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4550-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4550-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4550-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1101\" class=\"wp-caption-text\">Selamat datang di SMKN 1 Boedi Oetomo<\/p><\/div>\n<div id=\"attachment_1102\" style=\"width: 1034px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1102\" class=\"wp-image-1102 size-large\" src=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4564-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4564-980x653.jpg 980w, https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/DSC_4564-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(min-width: 0px) and (max-width: 480px) 480px, (min-width: 481px) and (max-width: 980px) 980px, (min-width: 981px) 1024px, 100vw\" \/><p id=\"caption-attachment-1102\" class=\"wp-caption-text\">Kursi yang sama dengan pelajar STOVIA<\/p><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Well, ending point<\/em> kali ini tepat di SMKN 1 Boedi Oetomo. Bicara tentang organisasi Boedi Oetomo, pada saat itu para pendirinya memang masih muda-muda, usianya sekitar 20 tahun-an. Kalau kamu, umur 20 lagi ngapain? Hihihihihihihi&#8230; Yang jelas, jangan pernah berhenti untuk mencintai Indonesia, ya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baiklaahh, sudah capek dan lapar, kita mampir makan siang dulu di Pos Bloc. Sampai ketemu lagi di jalan-jalan sejarah berikutnyaaa \ud83d\ude00<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<ol>\n<li><em>Tour guide<\/em><\/li>\n<li>https:\/\/fk.ui.ac.id\/sejarah.html<\/li>\n<li>https:\/\/fkkmk.ugm.ac.id\/tentang-ugm\/sejarah-fkugm\/<\/li>\n<li>https:\/\/heritage.kai.id\/page\/Stasiun%20Pasar%20Senen<\/li>\n<li>https:\/\/muskitnas.net\/sejarah-museum-kebangkitan-nasional\/<\/li>\n<li>https:\/\/smkn1jakarta.sch.id\/sejarah\/<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hulaaa, my another walking tour route is coming to text hihihihihi&#8230;. Masih dalam edisi walking tour bersama Walkindies, kali ini gw mau cerita perjalanan bersama mereka dengan judul STOVIA &amp; Boedi Oetomo. Yaa sesuai namanya, kita akan menelusuri sejarah pendidikan kedokteran dan pergerakan pemuda yang tersohor di Indonesia. Kemana ajaa kitaa? Kuyy jalan-jalan \ud83d\ude00 &nbsp; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1103,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[84,76],"class_list":["post-1084","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-travel-story","tag-stovia","tag-walking-tour"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1084","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1084"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1084\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1103"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1084"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1084"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/altamira.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1084"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}