Pemakaman bukan hanya tempat duka, melainkan sebagai medium pencatatan sejarah dalam sunyi. Setiap nama yang tertulis di batu nisan menyimpan kisah masa lalu, tentang perjuangan, cinta, kehilangan, dan keluarga. Hari ini, gw melihat sesuatu yang berbeda dari sekadar kompleks pemakaman, tetapi juga rangkaian sejarah yang sarat akan penghormatan. Mari kita memaknai kematian sebagai penghormatan atas perjuangan dan makna bagi orang yang telah tiada dan keluarga yang ditinggalkan. Masih dengan tour provider yang sama, Walkindies, kali ini gw berkunjung ke dua makam bersejarah di Jakarta, tepatnya di area Menteng Pulo. Bagi kalian yang pernah notice ada komplek makam yang cukup luas dan bisa kelihatan dari atas Kota Kasablanka atau dari beberapa apartemen sekitarnya, ya itulah lokasi kunjungan kami hari itu yaitu Ereveld Menteng Pulo dan Jakarta War Cemetery.

Gerbang utama Ereveld Menteng Pulo

Pintu masuk utama Jakarta War Cemetery

Titik temu tur kami dimulai dari Plaza Festival. Sebagai cerita pembuka, kami diperkenalkan dengan salah satu pahlawan nasional perempuan Indonesia yaitu Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau dikenal dengan H.R. Rasuna Said. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 14 September 1910, H.R. Rasuna Said dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, politisi, dan pendidik. Ia juga dijuluki sebagai Singa Betina, merujuk pada semangat perjuangan dan keberaniannya melawan penjajah. Lekat dengan budaya matrilineal, H.R. Rasuna Said memiliki banyak kesempatan dalam mengenyam pendidikan dan berkarier di dunia politik, terutama untuk meningkatkan kesadaran politik dan pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia. Ia banyak berpidato yang bertujuan membakar semangat perjuangan hingga akhirnya berkarier sebagai anggota DPR-RI. Tak hanya itu, H.R.Rasuna Said juga peduli dengan pendidikan. Baginya, pendidikan merupakan kunci utama keluar dari kebodohan dan melawan penindasan. Keyakinan tersebutlah yang mendorongnya mendirikan beberapa sekolah. Setelah perjuangan panjangnya, kondisi kesehatan H.R. Rasuna Said pun mulai menurun. Walau demikian, semangat perjuangan tak pernah padam, hingga akhirnya beliau wafat pada 2 November 1965. Mengingat jasa-jasanya, H.R. Rasuna Said dikebumikan di TMP Kalibata lengkap dengan upacara militer. Namanya pun digunakan sebagai nama salah satu ruas jalan utama di Jakarta Selatan.

Patung dada H.R. Rasuna Said di Plaza Festival

Kembali ke Ereveld Menteng Pulo dan Jakarta War Cemetery, jujur gw sangat amaze dengan penataan makam di sana. Sangat rapi, sangat terjaga, sangat bersih, dan sangat estetik. Kami yang mengunjungi pun merasa sangat nyaman karena jauh dari kesan horor/angker. Walau cuaca siang itu cukup terik, tetapi keberadaan beberapa pepohonan di sana cukup memberikan nuansa rindang. Sebelum memulai tur, kami diberikan beberapa penjelasan mengenai tata tertib saat mengunjungi makam. Tentu saja karena ini area pemakaman, maka pakaian yang digunakan idealnya adalah pakaian yang sesuai. Kemudian saat menginjak area makam, pastikan yang kita injak adalah yang bagian kaki, jangan menginjak bagian kepala. Terakhir, yang paling penting, saat mengambil dokumentasi yang bertujuan untuk diunggah di media sosial, diimbau untuk tidak mengunggah dokumentasi yang menampilkan nama orang pada nisan secara jelas. Hal ini untuk tetap menjaga privacy keluarga yang dtinggalkan. Jadi kami diarahkan untuk mengambil dokumentasi dari arah belakang nisan.

Komplek makam kehormatan di tengah kota Jakarta

Makamnya terkelola dengan sangat baik

Cerita hari ini berawal di tahun 1942, saat Indonesia masih dikenal dengan nama Hindia Belanda. Saat itu, lebih kurang 300.000 orang Belanda tinggal di negara jajahan Belanda ini. Pada tahun tersebut pula, Jepang masuk untuk mengambil kekayaan alam hasil bumi Indonesia. Invasi Jepang ke Indonesia merupakan rangkaian dari Perang Dunia II (PD II) dan salah satu dampak dari kemenangan Jepang setelah berhasil menghancurkan Pearl Harbour pada 1941. Setelah itu, Jepang ingin memperluas basis militernya ke beberapa negara lain, salah satu tujuannya adalah Indonesia.

Pada periode pendudukan Jepang, tak hanya orang pribumi yang menjadi tawanan dan pekerja paksa, orang Belanda pun turut merasakan penyiksaan sebagai tawanan dan pekerja paksa. Selain mendapat penyiksaan di kamp tentara Jepang, mereka juga menderita karena kekurangan makanan. Sehingga tak sedikit dari mereka yang meninggal dunia. Salah satu proyek yang dikerjakan para pekerja paksa tersebut adalah pembangunan rel kereta Burma-Siam.

Jepang akhirnya menyerah kalah dalam rangkaian PD II pada 1945 setelah Amerika berhasil mengebom Hiroshima dan Nagasaki. Pada tahun 1945 ini juga, PD II berakhir. Hasil dari PD II ini, tercatat sekitar 34.000 orang Belanda di Indonesia gugur sebagai korban perang. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 25.000 korban perang tersebut dimakamkan di makam khusus yaitu makam kehormatan Belanda atau disebut dengan ereveld. Pada awalnya terdapat 22 makam kehormatan Belanda yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jakarta, Banjarmasin, Manado, Tarakan, dan lainnya. Namun, jumlah tersebut kemudian diperkecil menjadi 7 ereveld saja dan semuanya berlokasi di pulau Jawa. Beberapa jenazah yang terdapat di ereveld luar pulau Jawa kemudian dipindahkan semua ke 7 ereveld yang masih aktif hingga saat ini yaitu Ereveld Menteng Pulo (Jakarta), Ereveld Ancol (Jakarta), Ereveld Pandu (Bandung), Ereveld Leuwigajah (Cimahi), Ereveld Kalibanteng (Semarang), Ereveld Candi (Semarang), dan Ereveld Kembang Kuning (Surabaya).

Ereveld Menteng Pulo diresmikan pada 8 Desember 1947 oleh Jenderal Simon Hendrik Spoor. Kelak, S.H. Spoor juga dimakamkan di Ereveld Menteng Pulo. Terdapat 4.000 makam korban perang dari PD II (1939-1945) dan Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949). Dalam satu area Ereveld Menteng Pulo, terdapat sebuah bangunan gereja yaitu Gereja Simultan, dan kolumbarium yang menyimpan 754 guci abu korban perang. Seluruh makam kehormatan Belanda di pulau Jawa ini dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgravenstitching (OGS). Tak hanya di Indonesia, OGS juga mengelola 50.000 makam Belanda korban perang di seluruh dunia.

Papan informasi Ereveld Menteng Pulo

Jika datang ke sini, gw yakin kalian akan berdecak kagum dengan konsistensi perawatan makam. Seluruh makam disusun dengan sangat rapi dan bersih. Usut punya usut, ternyata di belakang makam terdapat sebuah bengkel atau workshop yang bertugas untuk membersihkan atau membuat ulang nisan yang rusak. Bahan utama nisan adalah beton, sehingga dapat bertahan umumnya sekitar lima tahun. Jika ada kerusakan nisan atau tulisan nama di nisan sudah pudar, maka nisan akan diganti baru. Seluruhnya dikerjakan langsung oleh pengrajin dari OGS. Saat gw bertanya, pada tahun 2025 hingga bulan Oktober, sudah 500 nisan diganti baru. Tiap bentuk nisan pun berbeda menandakan jenis kelamin dan agama yang dianut.

Proses pembuatan nisan baru

Selain itu, terdapat satu area pemakaman khusus bagi tentara angkatan darat Belanda yang merupakan anggota dari 7 December Divisie (Divisi Tujuh Desember). Tentara ini merupakan tentara bentukan khusus yang diinisiasi oleh pidato Ratu Wilhelmina di London pada 7 Desember 1942. Semenjak Jepang mundur dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 1945, jiwa nasionalisme bangsa Indonesia semakin kuat. Kondisi inilah yang dianggap berpotensi menghambat Belanda yang masih ingin Indonesia berada di bawah koloni Belanda, sekaligus keinginan kuat Belanda untuk tetap dapat mengambil hasil bumi Indonesia. Anggota 7DD inilah yang kemudian ditugaskan untuk mengkondisikan Indonesia sama seperti sebelum mereka menyatakan merdeka. Namun, bangsa Indonesia sudah tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, mereka memberikan perlawanan. Tentara 7DD yang gugur kemudian dimakamkan secara terhormat di Ereveld Menteng Pulo. Untuk memberi tanda perjuangan mereka, pada nisannya diberikan kode ‘7DD’.

Monumen untuk tentara 7DD

Bergeser sedikit, kita akan masuk ke Gereja Simultan atau simultankerk. Walau namanya gereja, sebenarnya simbol dalam bangunan ini tidak hanya mewakili satu agama tertentu saja, tetapi juga terdapat simbol yang mewakili Islam, Kristen, Buddha, dan Yahudi. Bangunan ini menggambarkan semangat toleransi antarumat beragama di Indonesia. Pada altar gereja terdapat sebuah kayu salib yang kayunya diambil dari bantalan kayu rel kereta api Burma-Siam. Salib ini berfungsi sebagai penghormatan pada para tawanan perang yang meninggal, yang berasal dari Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika.

Kayu salib dari rel kereta Burma-Siam

Tujuan kami berikutnya yaitu Jakarta War Cemetery yang berada di area yang sama, tetapi berbeda pengelola. Jakarta War Cemetery dikelola oleh The Commonwealth War Graves Commission, yang juga merupakan mitra organisasi OGS. The Commonwealth War Graves Commission berdiri berdasarkan Royal Charter pada 1917 dan berkerja atas nama Pemerintah Australia, Kanada, India, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Inggris untuk mengenang 1,7 juta orang (baik pria maupun wanita) dari negara-negara persemakmuran Inggris yang gugur dalam PD II.

Makam di Jakarta War Cemetery

Tak hanya mengincar Indonesia, pada PD II, Jepang juga mengincar Australia. Saat pertama kali masuk ke Indonesia, dapat dikatakan secara bertahap Jepang perlahan menguasai pelabuhan-pelabuhan, mulai dari Surabaya, Makassar, Banjarmasin, hingga Timor, dan Ambon. Saat itu, para tentara persemakmuran Inggris (atau dikenal dengan tentara sekutu) yang berada di Australia dan New Zealand berupaya “mencegat” Jepang agar tidak sampai ke Australia. Mereka kemudian menahan Jepang di Ambon dan terjadi perlawanan di sana. Kelak, para tentara sekutu yang gugur di Ambon, juga dimakamkan dalam sebuah komplek pemakaman kehormatan yang saat ini dikenal sebagai Ambon War Cemetery. Sementara itu, mereka yang gugur dalam pertempuran selain di Ambon, dimakamkan di Jakarta War Cemetery. Untuk mengenang seluruh tentara Australia dan New Zealand yang gugur dalam perang (perang apapun), masyarakat Australia dan New Zealand memperingati Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) Day tiap 25 April.

Ambon War Cemetery (Sumber gambar/photo source: https://www.cwgc.org/visit-us/find-cemeteries-memorials/cemetery-details/2015000/ambon-war-cemetery)

Di tengah area pemakaman, terdapat sebuah monumen yang berbentuk salib dengan simbol pedang menghujam di tengahnya. Salib merupakan simbol keimanan sebagian besar tentara sekutu yang gugur, sementara pedang melambangkan budaya militer. Secara keseluruhan, terdapat 1.181 makam yang bersemayam di Jakarta War Cemetery, terdiri dari 105 makam angkatan laut, 783 makam angkatan darat, 271 makam angkatan udara, 12 makam awak kapal dagang, 10 makam polisi Malaya dan lainnya. Jika dikategorisasi berdasarkan negara asal, terbagi atas 715 orang berasal dari Inggris, 304 berasal dari India, 96 orang berasal dari Australia, 4 orang berasal dari Kanada, 2 orang berasal dari New Zealand, 1 orang dari Afrika Selatan, 22 orang dari Malaya, dan 36 orang sekutu lainnya. Salah satu tokoh yang juga dimakamkan di sana yaitu A.W.S. Mallaby, yang kerap dikaitkan dengan peristiwa Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Kelak, Indonesia merayakan hari Pahlawan tiap tanggal 10 November.

Monumen salib dan pedang

Menelusuri kedua pemakaman ini, gw merasa takjub dengan manajemen pengelolaan yang super bagus ini. Pemakaman tidak lagi jadi sebuah tempat yang punya kesan angker. Justru dengan mengunjungi kedua makam ini, gw merasa memang perang selalu membawa duka. Walau ironisnya, dengan peperangan yang dahulu terjadi, Indonesia bisa berdaulat dan merdeka. Setiap batu nisan di pemakaman perang ini bukan sekadar penanda kematian, melainkan saksi bisu dari harga untuk kemerdekaan dan kedamaian. Ereveld Menteng Pulo dan Jakarta War Cemetery mengajak kita berefleksi bahwa masa depan yang damai hanya bisa dibangun oleh mereka yang berjiwa ksatria dari masa lalu.

Sumber:

  1. https://kumparan.com/profil-tokoh/biografi-rasuna-said-dan-latar-belakangnya-lengkap-239H1oLUG2S/full
  2. https://nationalgeographic.grid.id/read/131828929/sepenggal-kisah-monumen-divisi-tujuh-desember-di-jantung-jakarta?page=all
  3. https://www.cwgc.org
  4. https://ogsindonesia.nl
  5. https://oorlogsgravenstichting.nl
  6. Booklet Ereveld Menteng Pulo