Apa yang pertama kali muncul di benak kalian ketika mendengar Lubang Buaya? Lubang Buaya merupakan salah satu tempat bersejarah di Jakarta Timur yang menyimpan kisah kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Lokasi ini identik dengan peristiwa G30S/PKI 1965. Tujuh anggota TNI AD disiksa dan dibunuh hingga akhirnya jenazah mereka ditemukan di sumur tua di daerah Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Kini, kawasan ini telah diabadikan menjadi sebuah kompleks Monumen Pancasila Sakti dan museum yang menjadi pengingat tentang linimasa yang mencekam dalam sejarah politik Indonesia. Selain menampilkan diorama, arsip, hingga ruang-ruang penyiksaan yang direkonstruksi, Monumen Pancasila Sakti juga mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kekuasaan, konflik ideologi, propaganda, dan komunikasi politik menjadi pintu masuk perpecahan. Mengunjungi Monumen Pancasila Sakti bukan sekadar perjalanan kilas balik sejarah, melainkan juga proses refleksi diri dalam memaknai kehidupan. Narasi berikut merupakan kurasi dari penceritaan tour guide Monumen Pancasila Sakti dan beberapa sumber lainnya.

Selamat datang di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya

Memasuki area Monumen Pancasila Sakti, tentu pikiran kita tidak akan lepas dari cerita pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia. Merujuk pada catatan sejarah, terjadi dua kali pemberontakan besar PKI. Pertama, pada 18 September 1948 di Madiun yang dipimpin oleh Musso dan Amir Sjarifuddin. Pemberontakan ini berhasil diatasi oleh Jenderal Gatot Soebroto. Kemudian yang kedua pada 1 Oktober 1965 di beberapa kota yang dipimpin oleh D.N. Aidit dan Letkol Untung.

Pada pemberontakan kedua dibentuk tiga kelompok pasukan yaitu Pasopati yang bertugas menculik para jenderal; Bimasakti yang bertugas menguasai lokasi-lokasi strategis seperti bandara, terminal, stasiun, area telekomunikasi, dan lainnya; serta Gatotkaca yang berjaga di daerah Lubang Buaya untuk mengeksekusi para jenderal yang diculik. Tiga kelompok ini berada di bawah komando pasukan Tjakrabirawa. Namun, pada 1 Oktober 1965 dini hari, dari tujuh jenderal yang direncanakan akan diculik, tiga jenderal ditembak dan meninggal di kediaman yaitu Jenderal M.T. Haryono, Jenderal Ahmad Yani, dan Jenderal D.I. Pandjaitan. Tiga jenazah jenderal tersebut kemudian dibawa ke Lubang Buaya. Sementara empat korban lainnya yaitu Mayjend R. Soeprapto, Mayjend S. Parman, Brigjen Sutoyo, dan Pierre Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution) dibawa ke Lubang Buaya dan disiksa sebelum akhirnya dibunuh.

Daerah Lubang Buaya dulunya adalah tanah lapang yang ditumbuhi pohon karet. Hanya terdapat beberapa bangunan rumah saja. Suasananya pun cenderung gelap dan sepi, sehingga menjadi sangat strategis untuk menjadi lokasi penyiksaan. Ketika para jenderal yang diculik tersebut sampai di Lubang Buaya, mereka ditempatkan di rumah penyiksaan. Rumah tersebut merupakan milik Bambang Hardjono, seorang Kepala Sekolah Rakyat yang bersama istrinya adalah simpatisan PKI dan anggota Gerwani. Sebagai bentuk dukungan pada gerakan PKI, ia memberikan rumahnya untuk digunakan sebagai rumah penyiksaan.

Rumah penyiksaan, korban yang diculik dikelilingi oleh simpatisan PKI dan Gerwani

Full suasana kengerian

Tak jauh dari rumah penyiksaan, terdapat pos komando. Bangunan ini dulunya milik Bapak Suaib, seorang pedagang kelapa. Mengingat lokasinya dekat dengan rumah penyiksaan, rumah Bapak Suaib diambil paksa. Di pos komando inilah dilaksanakan rapat rencana penculikan, terutama oleh kelompok Pasopati, sebanyak 16 kali. Hingga saat ini, bangunan pos komando 90% masih asli. Bernasib sama dengan Bapak Suaib, Ibu Amroh, seorang pedagang keliling yang tinggal tak jauh dari situ, juga mengalami pengambilan paksa rumahnya yang kemudian dijadikan dapur umum.

Dapur umum untuk suplai makanan dan logistik

Lalu, bagaimana jasad tujuh korban PKI tersebut dapat ditemukan dalam sebuah sumur di Lubang Buaya? Mari kita berkenalan dengan seorang perwira polisi bernama Bapak Sukitman yang berjasa dalam mengungkap tragedi ini. Dini hari 1 Oktober 1965, beliau sedang berpatroli di area rumah D.I. Pandjaitan. Tidak lama dari patroli, ia mendengar suara tembakan dari arah rumah D.I. Pandjaitan. Tanpa berpikir lama, Bapak Sukitman langsung melaju ke lokasi suara tembakan. Sayangnya, ia ketahuan sehingga menyebabkan Bapak Sukitman ikut dibawa bersama jasad D.I. Pandjaitan. Sepanjang jalan, mata beliau ditutup dan hanya bisa mendengar. Setelah tiba di Lubang Buaya, para pasukan penculik kemudian berdiskusi apakah mau membebaskan Bapak Sukitman atau tidak. Bapak Sukitman kemudian ditanya, apakah mau menjadi simpatisan PKI jika dibebaskan. Bapak Sukitman akhirnya menyetujui demi dibebaskan karena beliau berniat melaporkan apa yang dilihatnya malam itu.

Bapak Sukitman (sumber gambar: https://www.tempo.co/politik/kisah-sukitman-polisi-lolos-dari-tragedi-g30s-dan-saksi-peristiwa-lubang-buaya–468097)

Kendaraan yang digunakan untuk menculik dan membawa jenazah serta korban penculikan ke Lubang Buaya

Setelah dibebaskan, Bapak Sukitman segera melapor ke Mayjen Umar Wirahadikusumah, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, dan Mayjend Soeharto. Pencarian lokasi pun dilakukan berbekal ingatan Bapak Sukitman. Hingga akhirnya pada 3 Oktober 1965 sore hari, sumur maut tersebut dapat ditemukan. Gundukan tanah dan tumpukan daun yang masih segar menjadi sumber penanda. Mengingat hari yang sudah terlalu sore, kondisi kawasan yang gelap, serta keterbatasan alat, diputuskan kembali lagi keesokan harinya untuk mengangkat jenazah di dalam sumur.

4 Oktober 1965, proses pengangkatan jenazah dilakukan. Saat itu, pemerintah mengirimkan pasukan tentara angkatan laut yang memiliki beberapa peralatan selam seperti masker oksigen, kacamata selam, hingga tabung gas Aqualung ABM-1M. Peralatan tersebut dibutuhkan mengingat kondisi sumur yang sempit (kedalaman 12 meter, diameter 75 cm), berbau, minim oksigen, dan basah.

Peralatan untuk masuk ke sumur maut

Sumur ini masih terjaga hingga kini

Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, seluruh jenazah diberangkatkan dari RSPAD Gatot Soebroto dengan menggunakan Panser Saraceen untuk dimakamkan dengan penghormatan militer di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sepanjang perjalanan, masyarakat Indonesia turut memberikan penghormatan kepada tujuh jenazah tersebut. Ironisnya, di tanggal yang sama dengan waktu pemakaman tersebut, bertepatan juga dengan peringatan ulang tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Panser yang digunakan untuk membawa jenazah pahlawan revolusi

Tidak lama berselang, melalui Keputusan Presiden, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi sebagai bentuk penghormatan kepada 10 nama berikut yaitu (1) Jenderal Anumerta Ahmad Yani; (2) Letjen Anumerta Suprapto; (3) Letjen Anumerta S Parman; (4) Letjen Anumerta MT Haryono; (5) Mayjen Anumerta D. I. Panjaitan; (6) Kapten Anumerta Pierre Tendean; (7) Mayjen Anumerta Sutoyo; (8) Brigjen Anumerta Katamso; (9) Aip II Anumerta Karel Satsuit Tubun; dan (10) Kolonel Anumerta Sugiyono. Tiga nama terakhir, memiliki kisah yang berbeda dengan tujuh korban lainnya.

Pada tanggal yang sama, yaitu 1 Oktober 1965, pemberontakan PKI juga terjadi di Jogjakarta. Di sana, Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono diculik dan dibunuh. Jasad keduanya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965 dan dimakamkan pada 22 Oktober 1965 di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Jogjakarta. Sementara K.S. Tubun, merupakan seorang Agen Polisi yang ditugaskan menjaga rumah Dr. J. Leimena, Wakil Perdana Menteri, di Jakarta. Kebetulan, rumah Leimena berdekatan dengan rumah Jenderal A.H. Nasution. Berdasarkan cerita, malam itu, pasukan penculik tidak tahu persis posisi rumah Jenderal A.H. Nasution. Mereka hanya mendapat info rumah Jenderal A.H. Nasution ada di sebelah Kedutaan Besar Irak. Tetapi, apakah yang di sebelah kiri atau kanannya Kedutaan Besar Irak? Akhirnya, seluruh pasukan penculik mendatangi kedua rumah yang berada di sebelah kanan dan kiri Kedutaan Besar Irak. Ternyata, salah satunya adalah rumah Dr. J. Leimena. Saat melihat pasukan penculik tersebut menuju rumah Leimena, K.S. Tubun tentu langsung menahan dan bertanya pasukan tersebut dari mana dan bermaksud apa. Namun, para pasukan penculik langsung menyerang K.S. Tubun. Beliau tetap melawan dengan sangat gigih. Namun, jumlah yang tidak seimbang dan persenjataan yang juga tidak sebanding, membuat K.S. Tubun roboh terkena timah panas.

Dua tahun setelah tragedi tersebut, TNI Angkatan Darat, khususnya Jenderal Soeharto, merapikan dan membangun kawasan Lubang Buaya tersebut sebagai area Monumen Pancasila Sakti dengan total area 14,6 hektar. Sumur maut yang menjadi saksi sejarah pun turut dijaga keasliannya dan masih dapat dilihat hingga kini. Tentunya, Monumen Pancasila Sakti merupakan monumen untuk mengenang kejadian dan pengingat akan bahaya laten PKI.

Masih dalam satu benang merah cerita, lokasi tujuan berikutnya adalah Museum Satria Mandala yang berada di Jl. Gatot Soebroto. Museum Satria Mandala ini diresmikan pada 5 Oktober 1972 oleh Jenderal TNI Soeharto. Dulunya, Museum Satria Mandala merupakan kediaman pribadi istri Bung Karno yaitu Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno. Rumah yang dikenal dengan nama Wisma Yaso tersebut merupakan hadiah dari Bung Karno untuk sang istri. Di sinilah Bung Karno menjalani masa sebagai tahanan rumah hingga wafat. Setelah Bung Karno meninggal, Ibu Ratna Sari Dewi beserta putrinya, meninggalkan Indonesia dan tinggal di Paris untuk beberapa waktu. Beberapa kali pindah negara, hingga akhirnya pulang kembali ke Jepang pada 2008 dan menetap di sana. Wisma Yaso pun diambil alih negara dan bertahap dipugar untuk menjadi Museum Satria Mandala. Satria Mandala merupakan bahasa Sansekerta yang berarti “lingkungan kramat para ksatria”. Tidak heran, karena Museum Satria Mandala merekam seluruh jejak perjuangan TNI selama kemerdekaan, dimulai dari diorama sejarah perjuangan, hingga beragam kendaraan perang (tank, panser, pesawat), dan senjata.

Museum Satria Mandala di Jl. Gatot Soebroto

Diorama PB Jenderal Soedirman

Beberapa koleksi senjata di Museum Satria Mandala

 

Dalam sejarah militernya, Indonesia hanya memiliki tiga orang Jenderal Besar (bintang 5) yaitu Panglima Besar Jenderal Soedirman; Jenderal Besar Abdul Haris Nasution; dan Jenderal Besar Soeharto. Museum Satria Mandala merekam jejak perjalanan karier militer ketiganya di Indonesia. Yang gw kagum, Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat di usianya ke 34 setelah tercatat sebagai pemimpin perang gerilya. Coba bayangkan, gw di usia 34 lagi ngapain? Secara umum, Museum Satria Mandala bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang untuk mengenang keberanian, dedikasi, dan semangat perjuangan yang hingga kini menjadi fondasi ketahanan Indonesia.

Referensi lain:
https://www.detik.com/jogja/berita/d-6956399/biografi-brigjen-katamso-salah-satu-korban-g30s-pki-di-jogja
https://www.detik.com/jogja/berita/d-7559231/profil-kolonel-sugiyono-pahlawan-revolusi-kelahiran-gunungkidul
https://www.tempo.co/politik/kisah-ks-tubun-di-malam-g30s-satu-satunya-polisi-pahlawan-revolusi-132543
https://www.kompas.id/artikel/wisma-yaso-dijadikan-museum-abri-pusat