Apakah ada yang masih ingat dengan lirik lagu ciptaan Ibu Soed ini:
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa
Angin bertiup, layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani, bangkit sekarang
Ke laut, kita beramai-ramai
Lagu ini sangat merepresentasikan Indonesia karena negara kita memang dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan lebih dari 17.000 pulau dan total luas wilayah lautnya mencapai lebih dari 70% total seluruh wilayah Indonesia. Luas laut wilayah Indonesia mencapai 5,8 juta km2, yang terdiri dari 3,1 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 juta km2 merupakan perairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Kondisi geografis yang strategis ini lah yang kemudian membuat Indonesia menjadi pusat lalu lintas perdagangan via jalur laut di dunia sejak dulu. Potensi kemaritiman ini terlihat dari armada laut Indonesia yang telah menjelajah samudera sejak lampau, melimpahnya sumber daya alam kelautan (perikanan, terumbu karang, biota laut, dan lainnya), hingga kebudayaan kelautan yang sudah lestari sejak dulu. Bahkan, Selat Malaka sudah tersohor sebagai bagian dari jalur Sutera yang membawa rempah-rempah dari Maluku ke India dan Eropa. Tidak heran, jika kekayaan wilayah perairan Indonesia telah menjadi potensi utama dalam membangun kedaulatan dan ketahanan negeri.
Siapa tidak kenal Laksamana Malahayati? Salah satu tokoh perempuan muda Aceh, pejuang yang hebat dan tersohor dari jalur laut. Lalu Fatahillah, tokoh panglima perang yang berhasil mengusir Portugis di Sunda Kelapa. Jejak sejarah maritim tersebut, tersimpan apik di sejumlah museum yang berada dalam pengelolaan Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta yaitu Museum Bahari, Museum Arkeologi Onrust (yang terdiri atas empat pulau bersejarah yaitu Pulau Kelor, Pulau Cipir, Pulau Onrust, dan Pulau Bidadari), Rumah si Pitung, dan Jembatan Kota Intan. Di artikel kali ini, gw hanya akan bahas tentang Museum Arkeologi Onrust dan Rumah si Pitung aja, yaa.. Untuk cerita tentang Museum Bahari dan Jembatan Kota Intan, udah pernah gw bahas di artikel sebelumnya di tautan ini https://altamira.id/blog/sejarah-batavia-sang-ratu-dari-timur/ . Selamat membaca!
Museum Arkeologi Onrust
Jujur ketika pertama kali mendengar Museum Arkeologi Onrust gw sangat excited untuk pergi ke sana. Terlebih, gw pernah mendapat beberapa cerita menarik tentang empat pulau yang termasuk dalam gugus museum ini. Gak hanya itu, salah satu bangunan yang cukup tersohor adalah Benteng Martello yang sampai hari ini masih terpreservasi dengan baik oleh UP Museum Kebaharian Jakarta, yang bercerita tentang pertahanan perairan Indonesia di bagian utara.
Keberangkatan gw ke empat pulau tersebut tentu gak sendirian. Bersama dua rekan petualang hari ini, Putri dan Dicka, kami bertolak ke empat pulau tersebut melalui pelabuhan kecil di Muara Kamal. Kapal yang kami naiki merupakan kapal dengan mesin, yang dapat diisi penumpang hingga maksimal 15 orang (termasuk tim kapal). Perjalanan menuju pulau tujuan pertama yaitu Pulau Kelor, menempuh waktu sekitar 40 menit. Sepanjang perjalanan, kami bertemu banyak sekali kapal nelayan penangkap ikan, hamparan tambak kerang hijau di laut, dan juga melihat area PIK dari tengah laut. Cuaca saat kami berangkat cukup cerah (agak panas sih yaa..) dengan ombak yang masih tergolong tenang.

Rekan petualang: Dicka – Putri – Melisa
1. Pulau Kelor

Selamat datang di Pulau Kelor!

Dermaga baru siap mendukung pariwisata
Di Pulau Kelor, kita masih bisa melihat Benteng Martello berdiri kokoh dari sisa-sisa perjuangannya. Jika datang ke Pulau Kelor, daya tarik utamanya hanyalah Benteng Martello ini. Saat ini, Pulau Kelor sedang dalam masa perbaikan untuk destinasi wisata. Perbaikan terutama berfokus pada fungsional dermaga, mengingat dermaga sebelumnya sempat rusak akibat ombak air laut.

Satu-satunya destinasi Pulau Kelor, Benteng Martello

Benteng Martello, saksi bisu pertahanan laut Belanda di Batavia

Cantik banget
Benteng Martello di Pulau Kelor, diperkirakan menjadi benteng terkecil jika dibandingkan benteng di Pulau Onrust, Pulau Bidadari, dan Pulau Cipir, selaras dengan Pulau Kelor yang juga hanya memiliki luas sekitar 2 hektar. Tinggi benteng mencapai 9 meter di atas permukaan laut, dengan diameter luar 14 meter dan tebal dinding 2,5 meter. Meskipun kecil, bangunannya masih tergolong berwujud walau terdapat sejumlah kerusakan di beberapa bagian yang salah satunya disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau pada 1883. Setidaknya, kita masih bisa membayangan betapa gagah dan kokohnya benteng ini dahulu ketika masih berfungsi maksimal. Sebagaimana fungsinya sebagai benteng pertahanan, kita dapat melihat sejumlah lubang berbentuk setengah lingkaran yang berfungsi untuk meletakkan laras meriam.

Lubang setengah lingkaran untuk senjata laras panjang
2. Pulau Onrust
Our next stop, Pulau Onrust. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kedatangan Belanda ke Hindia Belanda sekitar abad ke-17 adalah karena kekayaan rempah-rempah yang kita miliki. Hampir di setiap pulau Hindia Belanda, menyimpan rempah khas yang saat itu harganya melebihi harga emas. Awalnya, pusat perdagangan rempah berada di kawasan Sumatera dan Maluku. Hingga akhirnya Belanda pun berniat untuk mengeksplorasi daerah lain untuk mencari rempah-rempah. Tujuan mereka jelas, Batavia. Tujuan ini tidak sesederhana hanya untuk menguasai Batavia saja, melainkan untuk mendapat akses masuk ke pulau Jawa. Untuk memuluskan rencana tersebut, Belanda kemudian membangun sebuah daerah persinggahan kapal di sebuah pulau yang berada di Teluk Jakarta. Kelak, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Onrust.

Selamat datang di Pulau Onrust!
Nama “Onrust” diambil dari bahasa Belanda yang artinya “sedang dalam keadaan beristirahat”. Penamaan ini selaras dengan fungsi pulau tersebut yang memang digunakan untuk tempat persinggahan atau beristirahat. Untuk memaksimalkan fungsinya, perlahan Belanda melengkapi fasilitas yang ada di Pulau Onrust dengan membangun fasilitas perbaikan kapal, gudang penyimpanan kayu, kincir angin, gereja, hingga pemukiman warga, sepanjang tahun 1668-1772. Lengkapnya fasilitas di sana, menjadikan pulau ini menjadi pulau yang ramai dan sibuk. Bahkan saking terkenalnya kelengkapan fasilitas di Pulau Onrust, salah seorang tokoh pelayaran terkenal dari Inggris, James Cook, tercatat juga pernah singgah di sini untuk beristirahat dan memperbaiki kapalnya. Ia juga lah yang kemudian dikenal sebagai penemu benua Australia. Saking sibuk dan ramainya Pulau Onrust, banyak orang yang kemudian mengaitkan kata “Onrust” dengan “on rush” atau sibuk/buru-buru.
Untuk memastikan keamanan pulau, Belanda juga tidak luput untuk membangun sebuah benteng pertahanan. Dibangunlah empat bastion yang berfungsi sebagai benteng pertahanan. Keberadaan benteng tersebut melengkapi fasilitas yang ada di Pulau Onrust sebagai garda terdepan pertahanan Belanda di Batavia.
Keputusan Belanda membangun benteng tersebut tidak salah karena tidak lama kemudian, Perang Revolusi Perancis meletus. Sebagai negara yang saat itu tidak memiliki kedaulatan ekonomi akibat dari perang Inggris, Belanda kemudian jatuh ke Perancis. Puncaknya, tahun 1800 Pulau Onrust habis diserang oleh tentara Inggris. Hampir seluruh bangunannya dirusak dan dibakar, termasuk benteng pertahanannya (yang lanjut digempur hingga habis tak bersisa pada 1806 dan 1810). Belanda kemudian menyerahkan pengoperasian Pulau Onrust kepada Inggris. Namun demikian, kekuasaan Inggris ternyata tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1817, Pulau Onrust sudah kembali dalam pengoperasian Belanda. Setelah kembali ke tangan Belanda, pemimpin Belanda saat itu kemudian mengembangkan penguatan pertahanan laut di Batavia. Maka dibangunlah area pertahanan di tiga pulau lainnya yang lokasinya berdekatan yaitu Pulau Purmerend (Bidadari), Pulau Kerkhoff (Kelor), dan Pulau Kuiffer (Cipir). Belanda juga melengkapi pembangunan benteng di area laut selatan Indonesia, yang terletak di Pulau Nusa Kambangan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi serta akses perairan, fasilitas pertahanan laut pun dikembangkan juga di sejumlah daerah lain. Pulau Onrust kemudian ditinggalkan, hingga kemudian pada tahun 1911 digunakan kembali sebagai lokasi karantina haji dan karantina warga yang terdampak wabah pes dan leptospirosis hingga tahun 1933. Terdapat 35 barak karantina, setiap barak dapat menampung hingga 100 orang jemaah haji.

Sisa reruntuhan bangunan karantina
Kemudian pada tahun 1940-an sempat digunakan juga sebagai tempat tawanan orang-orang Jerman (Nazi). Berikutnya, saat masa kependudukan Jepang, Pulau Onrust juga sempat difungsikan sebagai penjara tahanan kelas berat. Yang memilukan, luas penjara yang tidak sebanding dengan kapasitas tahanan akhirnya membawa sebuah kisah di luar kemanusiaan. Persis dekat ruang tahanan terdapat sebuah ruang yang memiliki kolam berbntuk lingkaran. Kolam tersebut digunakan untuk mengadu para tahanan. Mereka dibiarkan bertarung hingga meninggal yang bertujuan untuk mengurangi kapasitas tahanan. Jika jumlah tahanan berkurang, tak hanya dapat meminimalisasi kemungkinan berdesakan di ruang tahanan, tetapi juga mengurangi biaya operasional untuk pangan. Sadisnya lagi, pertarungan tersebut juga dijadikan sebagai ajang hiburan oleh sipir penjara yang bertugas.

Penjara saat pendudukan Jepang

Kolam tempat mengadu tahanan
Saat ini, Pulau Onrust berfungsi sebagai salah satu destinasi wisata edukasi sejarah di Jakarta. Sejak 1972, Pulau Onrust ditetapkan sebagai pulau bersejarah yang dilindungi berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta. Kemudian pada 16 Oktober 2015 ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya Taman Arkeologi Onrust bersama dengan Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan Pulau Bidadari. Jika kita berkunjung ke Pulau Onrust, kita dapat masuk ke bangunan museumnya. Bangunan ini dulunya adalah rumah dokter yang bertugas di sana. Saat ini kita bisa melihat ragam temuan hasil ekskavasi arkeologis atau peninggalan dari serangkaian kejadian di Pulau Onrust seperti pecahan batu bata, alat makan (piring, sendok, mangkuk), meriam, dan lainnya.

Yuk, masuk!
Yang juga menarik, terdapat sebuah komplek makam Belanda yang masih terjaga dengan cukup baik di Pulau Onrust. Terdapat sekitar 52 nisan makam yang disinyalir merupakan makam warga Belanda yang meninggal di usia yang tergolong muda (rata-rata di bawah 40 tahun) akibat penyakit tropis. Jika diperhatikan, ada satu makam yang cukup menarik perhatian yaitu makam seorang gadis muda bernama Maria van de Velde. Pada nisannya terukir puisi cinta romantis untuk sang kekasih. Walau hingga kini, tidak diketahui siapa nama kekasih Maria.

Komplek makam Belanda
Makam lainnya yaitu sejumlah makam pribumi Indonesia yang ditandai dengan nisan dan pembatas batu bata, serta makam yang berada dalam sebuah bangunan. Terdapat tiga makam terpisah yang salah satunya disinyalir merupakan makam milik Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pendiri Negara Islam Indonesia (NII) melalui pergerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Nisan dari ketiga makam tersebut ditutup oleh kain putih.

Makam pribumi

Terdapat tiga makam dalam bangunan khusus ini, satu lagi ada di sisi paling kanan (tidak terfoto)
3. Pulau Bidadari
Lanjut kita menuju Pulau Bidadari. Kalau masih ada yang ingat, sekitar tahun 1990-an, Pulau Bidadari merupakan primadona tujuan wisata yang menawarkan resor ekslusif dengan view pantai/laut. Saat ini, masih ada sejumlah penyedia layanan wisata yang memiliki paket wisata liburan di Pulau Bidadari. Walaupun Pulau Bidadari masuk dalam cagar budaya, tetapi pengelolaannya ada di bawah anak perusahaan Ancol.

Selamat datang di Pulau Bidadari!

Mari plesir duluuu
Dulu, Pulau Bidadari difungsikan sebagai tempat karantina bagi orang-orang yang terinfeksi lepra dan kusta, sehingga dibangun juga rumah sakit di sini. Itulah sebabnya, mengapa Pulau Bidadari sempat dikenal juga sebagai Pulau Sakit. Sampai akhirnya setelah tidak ada lagi pasien kusta dan lepra, sekitar tahun 1790-an, rumah sakit di pulau ini bisa menerima pasien dengan ragam penyakit lainnya. Benteng Martello di Pulau Bidadari tergolong cukup besar jika dibandingkan di pulau lainnya, memiliki dimensi diameter sekitar 23 meter dengan tinggi 6,5 meter.

Benteng Martello di Pulau Bidadari

Walaupun berupa sisa reruntuhan, tetapi tergolong masih berwujud

Secara desain strukturnya juga lebih kompleks dari yang di Pulau Kelor
Menariknya, area Pulau Bidadari juga menjadi habitat alami Elang Bondol (Haliastur indus), salah satu satwa dilindungi di Indonesia. Elang Bondol juga menjadi maskot kota Jakarta dan menjadi satwa dalam logo Transjakarta. Pada salah satu pohon tinggi di sana, terdapat satu sarang elang bondol yang terjaga alami. Sayangnya, sepanjang kami stay di sana, kebetulan elang bondolnya gak lewat.

Can you guys spot the bird nest?
4. Pulau Cipir
Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Cipir. Di era VOC, Pulau Cipir digunakan sebagai gudang oleh Belanda. Jadi, sebelum beristirahat di Pulau Onrust, para awak kapal menurunkan dulu barang-barangnya untuk diletakkan di gudang di Pulau Cipir. Setelah itu, barulah mereka menyeberang ke Pulau Onrust untuk beristirahat. Pembangunan Benteng Martello di Pulau Cipir dilakukan sepanjang 1850-1853. Namun demikian, bangunan ini tidak bertahan lama karena kemudian dihancurkan untuk pembangunan rumah sakit. Rumah sakit ini diperuntukkan bagi masyarakat yang akan berangkat ke luar negeri, sebelum dan sesudah berangkat harus menjalani karantina terlebih dulu. Termasuk juga kelak turut menjadi tempat karantina haji bersama dengan Pulau Onrust. Saat seorang jemaah haji kembali ke Indonesia, maka ia akan diperiksa terlebih dulu kesehatannya di Pulau Cipir. Jika positif terinfeksi penyakit, maka ia akan dirawat terlebih dulu di Pulau Cipir. Namun jika negatif terinfeksi virus, maka akan dipindahkan ke Pulau Onrust untuk dikarantina sebelum kembali ke daerah asalnya masing-masing. Fasilitas kesehatan di sini tergolong lengkap. Selain tersedia kamar rawat dengan jumlah yang cukup banyak, tersedia juga ruang periksa dan ruang bedah.

Selamat datang di Pulau Cipir!

Sisa reruntuhan bangunan rumah sakit

Sejauh mata memandang
Rumah si Pitung
Siapa tak kenal dengan tokoh si Pitung? Namanya begitu tersohor di kalangan masyarakat Betawi. Setelah mencari sejumlah referensi tentang si Pitung, ternyata ada beberapa versi cerita. Termasuk banyak cara pandang mengenai karakter si Pitung. Artikel ini mencoba merangkum dari sejumlah referensi yang dibaca. Kesahihan cerita, silakan boleh mencari referensi tambahan lainnya.

Rumah utama yang luas dengan konsep lebar menyamping

Ada yang sudah pernah ke sini?

Struktur penyangga rumah panggung
Cerita tentang si Pitung, setidaknya dari yang gw baca, punya tiga sudut pandang berbeda, yaitu dari sudut pandang Indonesia, Cina, dan Belanda. Jika menilik dari sudut pandang Indonesia dan Cina, si Pitung dikenal sebagai pahlawan Betawi yang kerap membela rakyat yang tertindas oleh penjajahan sehingga dikenal juga sebagai Robinhood dari Betawi. Dalam sebuah referensi diceritakan bahwa si Pitung bernama asli Salihoen (ada juga referensi yang menyebutkan nama Pitung adalah Ahmad Nitikusumah). Ia lahir di daerah Rawabelong, merupakan anak dari Bang Piung dan Mpok Pinah. Sepanjang hidupnya, Salihoen bersekolah di sebuah pesantren pimpinan Haji Naipin. Tak hanya mengaji, Haji Naipin juga membekali Salihoen dengan ilmu beladiri silat, termasuk di dalamnya ilmu Pancasona. Ilmu tersebut disinyalir sebagai ilmu beladiri tertinggi yang bisa membuat pemilik ilmu tersebut menjadi kebal dari senjata musuh dan, katanya, bisa menghilang.
Pitung lahir dan hidup di masa pribumi banyak tertindas dan mengalami ketidakadilan. Itulah yang menyebabkan Pitung, bersama sejumlah temannya, kemudian merampok kembali harta pribumi yang diambil paksa, untuk dikembalikan kembali ke pemiliknya. Niatnya sederhana, ta ingin melihat masyarakat tetap sejahtera. Tentu saja aksinya tersebut membuat Pitung harus berhadapan dengan kompeni dan polisi-polisi Belanda. Ia diceritakan pernah beberapa kali ditangkap dan dipenjara. Itulah mengapa dalam versi cerita Belanda, tentu saja Pitung dikisahkan sebagai penjahat atau bandit berbahaya karena dalam sejumlah perampokannya, ia tidak segan-segan membunuh korban.
Kisah meninggalnya Si Pitung pun memiliki beberapa versi. Ada versi yang menyebutkan Pitung meninggal akibat ditembak oleh polisi Belanda dan dimakamkan di Pemakaman Kampung Baru. Versi lain menyebutkan Pitung juga mati ditembak dengan peluru emas. Peluru ini merepresentasikan bahwa Pitung memang bukanlah orang sembarangan, karena hanya dapat dilukai dengan peluru berbahan dasar emas. Versi lainnya lagi, Pitung disebut memiliki ajian Rawa Rontek yang membuat ia kebal peluru. Ajian Rawa Rontek dapat luruh jika si empunya ilmu dilempari telur busuk atau dipotong rambutnya. Akhir cerita versi ini memang menyatakan bahwa Pitung tewas ditembak setelah dilempari telur busuk dan dipotong rambutnya. Setelah itu, bagian kepala dan badannya harus dikuburkan terpisah karena jika disatukan masyarakat percaya Pitung dapat hidup kembali. Cerita inilah yang menyebutkan bahwa Pitung dimakamkan di tiga lokasi yaitu Pulau Onrust, Jembatan Lima, dan Palmerah. Pertanyaan selanjutnya, rumah milik siapakah yang saat ini dijadikan museum Rumah si Pitung di Marunda?

Diorama pakaian adat Betawi
Masih berdasarkan referensi yang gw baca, Rumah si Pitung di Marunda ini dulunya adalah milik seorang saudagar kaya asal Bugis, Makassar, bernama Haji Saipudin (referensi lain menyebutkan H. Safiuddin). Haji Saipudin merupakan salah satu korban perampokan yang dilakukan Pitung. Namun referensi berbeda menyebutkan bahwa H. Safiuddin merupakan sahabat baik Pitung dan di rumah tersebutlah Pitung kerap bersembunyi. Saat ini, rumah tersebut telah dibeli oleh Pemda DKI dari penghuni terakhir rumah tersebut dan dibangun sebagai cagar budaya Rumah si Pitung.

Destinasi wisata yang menarik
Secara umum, area rumah ini tergolong luas. Rumah tersebut dibangun dengan gaya rumah panggung. Dalam satu area, terdapat satu bangunan rumah utama dan dua bangunan penunjang lainnya. Tepat di belakang area Rumah si Pitung, terdapat bengkel perbaikan kapal.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Pitung, kita semua sepakat bahwa karakter Pitung merupakan legenda yang penuh cerita. Bahkan kisah si Pitung juga pernah diangkat ke layar lebar. Mari kita teladani kisah baiknya, dan buang kisah buruknya. Sampai ketemu di artikel berikutnyaaa!

Sumber:
- Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonsia Nomor 169/di tahun 2020 Tentang Rencana Strategis Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Eergi tahun 2020-2024
- Menara Martello di Indonesia. Argi Arafat, dkk. 2022
- Mengenal Rumah si Pitung. Endi Aulia G, dkk. 2023
- https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/15/140000869/jalur-sutera-sejarah-dan-posisi-indonesia?page=all
- https://pulauseribu.jakarta.go.id/post/2024-03-02/menelusuri-lokasi-bersejarah-pulau-onrust-di-kepulauan-seribu
- https://mitramuseumjakarta.id/onrust
- https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/cagarbudaya/objek/KB001645
- https://www.tempo.co/politik/sekarmadji-maridjan-kartosoewirjo-pemimpin-di-tii-dan-proklamator-negara-islam-indonesia-311297
- https://news.detik.com/berita/d-2014446/misteri-makam-keramat-di-pulau-onrust
https://mitramuseumjakarta.id/history/sipitung
