In!Lah 9ay4 tuL!saN r3maJa zaMan 5ekaRaN9!

Membaca majalah remaja tentunya menjadi hal yang menyenangkan. Hiburan murah di saat stres. Tapi, kaget rasanya ketika membaca majalah HAI milik Adik. Di rubrik curhat, beberapa pembacanya menulis seperti ini:

“ Hi bag gw Lg bngung neh, dskuL gw ad sOrg cwo yg sbnrNa gw g knal dy. Nah co neh sring manggil2 & godain gw g jLz gtu kL kbtLan qt Ktm. AwL na c gw risih & sbeL. Tp Lma2 gw jd sneng dGodain ma dy (scr dy kan sLh1 cwo bken dskuL) mLh gw sring sngja Lwt dpn kLz/tongkronganNa biar ktm dya. Ap ne brtnda kL gw ska ma dy? Trz ap yg musti gw Lakuin?” (dikutip sebagaimana aslinya dari Majalah HAI 2-8 Juni 2008, th. XXXII no. 22)

Lalu ada lagi yang lain:

“karduz, bntuin ak dhunkz!! Ak thuw cnt ma ce. N ce it ningglin ak, cz dy CLBK gt dweh..Biz tu dy mnt ak bwt bnci dy. Ju2r aj ak emg g bs. Cz smp skr ak msh cnt ma dy. Ak kan co stia.(halah!!) Gmn y cranya bwt bnci n bs lpain dy?? Cz smwa cra ud ak cb. Mgkn km pny cra laen!?” (dikutip sebagaimana aslinya dari Majalah HAI 3-9 September 2007, th. XXXI no. 36)

Sebentar, ada lagi :

“Hai bagman, si muk4 kardus tp b4ik h4t!, toloNg!n gw donk, gw suk4 m4 Cewk, gw dh pdkt, tlp N zmz’n m4 di4, tp dia dh pnya Cowk, gw pngN b4ngt m4 dia, gmN cara’x sp4ya dapetin di4,,tolongin gue doonk,,,,” ( dikutip sebagaimana aslinya dari Majalah HAI 20-26 April 2009, th. XXXIII no. 16)

Lalu, lihat juga status update seseorang di facebook:
“Adduuuhh..kamu cApa iiaaa..akkuuwwhhh gag nal…”

SMS dari keponakan (yang memang masih SMA):
“Ma’acihh iiaa uCapan cLamat uLang Tauuunn’x”

Dan satu lagi ketika iseng membuka sebuah blog (semoga ini yang terakhir):
“ADDUuuUUWwwHHH,,,MALUUUUUUUUUK!!! TeMan2,,Masa Ya..Tadi tu AQu PinGsAn!!!! AbiS
OuTbonD, Cicip2 StRoBerI yang ManiS2,,,Aku KeBanYakan FotO2 Dan kaReNa MeNtaRi BerSiNar BeGiTu TeriQNya,,,,Aku GaK KuAsa,,,MataQu BerKuNanG,,,,HiDunGku MeLeleH,,,LidahKQu KaKu,,BiBIrQu KeriinG,,,PiTa DikePalaQu JaTuH,,,,,AKu,,,PinGSAN!!!!!!!!!

Tapi ternyata masih ada yang lebih parah. Dan bahkan sempat heboh beberapa waktu lalu. Prestasinya, kasus ini sampai dimuat di The Jakarta Post edisi Rabu, 28 Oktober 2009 dengan judul “Messing with Letters” tulisan Dian Kuswandini. Seorang remaja yang di akun facebooknya bernama Ophi a Bubu, menulis seperti ini:

“TaKe mE 2 yOuR hEaRtZzz??????????????????
cXnK qMoh tO cKiDnAAAAaaaAaAaaaa…….
m_tHa apOn YoH………………
qoH tLuZ”aN uCHA bWaD tTeP qEqEUh cXnK qMo……….
bUD„„„„„„„„„,
hUhuHuHfTFTf………….. ..
cIa” adJA…………………
shIt????????????
maYbe???????????????
ckIdDDdddDDDd„„„„„„, „„„„„„„„„„„„„ „„
pGEn qOh tO bLanK……………………..
U bLOkE mY hEaLtH!!!!!!!!!!!!!!!
i tHinK…………….
it’Z DISGUSTING vOiCE………………..
anDeE………………….
adJA g2 dRe wAL……………..
qTaH gAg mKeN dIEM”aN gNe tOh???!?@??@?@??@@?@? “

Sempet mumet membacanya. Mungkin Anda juga. Maka dari itu, agar Anda juga bisa mengerti maksud tulisan itu, diterjemahkan ulang saja, ya.

Untuk kutipan pertama itu kira-kira begini isinya:
“Hai bag gue lagi bingung nih, di skul (sekolah) gue ada seorang cowo yang sebenarnya gue gak (nggak) kenal dia. Nah, cowok ini sering manggil-manggil dan godain gue gak jelas gitu kalau kebetulan kita ketemu. Awalnya sih gue risih dan sebel. Tapi lama-lama gue jadi seneng digodain ma dia (secara dia kan salah satu cowok beken di skul) malah gue sering sengaja lewat depan kelas/tongkrongannya biar ketemu dia. Apa ini pertanda kalau gue suka sama dia? Terus, apa yang mesti gue lakukan?”

Kemudian kutipan kedua:
“ Kardus bantuin aku donk! Aku tuh cinta sama cewek. Dan cewek itu ninggalin aku, cause (dari kata because=karena) dia CLBK (singkatan dari ‘Cinta Lama Bersemi Kembali’) gitu deh..Abis itu dia minta aku buat benci dia. Jujur aku memang gak bisa. Cause sampai sekarang aku masih cinta sama dia. Aku kan cowok setia (halah!!) Gimana ya caranya buat benci dan bisa lupain dia?? Cause semua cara sudah aku coba. Mungkin kamu punya cara lain??”

Ini kutipan ketiga:
“Hai bagman, si muka kardus tapi baik hati, tolongin gue donk, gue suka sama cewek, gue sudah pdkt (dari kata ‘pendekatan’), telpon dan sms-an sama dia, tapi dia sudah punya cowok, gue pengen banget sama dia, gimana caranya supaya dapetin dia,,tolongin gue dong..”

Lalu yang dari facebook: “Aduh, kamu siapa ya? Aku nggak kenal..”

SMS dari keponakan: “ Terima kasih ya ucapan selamat ulang tahunnya..”

Terakhir, yang dari blog itu:
“Aduh, malu!Teman-teman, masa ya tadi aku pingsan! Abis outbound cicip-cicip strawberry
yang manis. Aku kebanyakan foto-foto dan karena mentari bersinar begitu teriknya, aku tak kuasa, mataku berkunang-kunang, hidungku meleleh, lidahku kaku, bibirku kering, pita di kepalaku jatuh, aku pingsan!!!”

Hhhmm…yang Ophi a Bubu, diterjemahin sendiri yaa..

Fiuuh…Lelah juga menuliskan ulang tulisan seperti itu. Percaya deh, capek! Mungkin karena kita tidak terbiasa menulis dan membaca tulisan seperti itu. Tapi itulah yang terjadi di kaum remaja kita. Mereka terbiasa untuk menulis dengan memanjangkan kalimat, mengkombinasikan huruf kapital dan huruf kecil, memendekkan kata, mengganti huruf dengan angka dan tanda baca, dan bahkan memotong huruf dalam kata tersebut. Kalau dipikir-pikir, mereka masuk nggak, ya, ketika pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu?
***
“Biar gaul aja , Kak. Abisan temen-temen semuanya gaya nulisnya begitu, saya jadi kebawa deh. Kayanya aneh, Kak, kalo gak begitu nulisnya”
“Biar lucuuuu…”
“Keliatan lebih imut ajaa..”
“Gak tau juga, ya, kenapa saya nulisnya begitu. Tapi karena kebanyakan temen juga gitu, ya, saya ikut aja deh”
“Ikut-ikut yang lain aja, Kak”

Itulah beberapa pendapat remaja yang sempat ‘tertangkap’ mengaku tentang gaya menulis mereka. Agak lucu, memang. Tapi itulah remaja, labil. Mereka masih banyak mengikuti budaya kebanyakan. Identitas dirilah yang mereka cari. Paling tidak agar label ‘remaja gaul masa kini’ melekat pada diri mereka. Sebuah label yang lebih diagungkan daripada label ‘siswa teladan tahun ini’. Mungkin karena lebih mudah mengejarnya, tanpa perlu susah-susah belajar.
***
Dalam buku yang ditulis oleh Rumini dan Sundari pada tahun 2004, masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju ke arah kedewasaan. Jika digolongkan sebagai anak-anak sudah tidak sesuai lagi, tapi jika digolongkan dengan orang dewasa juga belum sesuai. Sementara Hurlock di tahun 1996 mengatakan masa remaja sebagai masa mencari identitas diri. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk mencari siapa diri, apa perannya dalam masyarakat, apakah ia seorang anak atau dewasa. Masa remaja juga sebagai masa yang tidak realistik, remaja melihat dirinya dan orang lain. Berdasarkan pemikiran inilah bisa diketahui alasan remaja menggunakan gaya penulisan acak adut tersebut.

Alasan pertama, mereka memang sedang mencari identitas diri. Caranya adalah dengan melihat orang lain. Remaja-remaja lain yang kemudian ia ikuti. Dari alasan pertama itulah muncul alasan kedua, sebagai remaja mereka harus mengikuti segala bentuk budaya remaja, termasuk budaya menulis ini. Mereka menganggap dengan mengikuti budaya ini, peran mereka sebagai remaja akan semakin jelas. Kesannya kalau tidak menulis dengan gaya seperti itu, ya, bukan remaja namanya. Gak gaul gituuu…
***
Jika kita dulu sekolah dengan benar (baca: tidak pernah bolos, atau paling tidak sekali-sekalilah..) dan mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia dengan baik maka seharusnya kita tahu waktu yang tepat untuk menulis dengan huruf besar atau dengan angka dan meletakkan tanda baca.

Ini hanya sebagian contoh dari sekian banyak penggunaan huruf besar. Huruf kapital digunakan sebagai huruf awal pada petikan langsung (Budi berkata, “Dari mana kamu?”), sebagai unsur nama orang (Melisa Bunga Altamira), ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan (Ya Allah), gelar kehormatan (Raden Ajeng Kartini), jabatan (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), nama geografis (Asia Tenggara), unsur nama negara (Republik Indonesia), lembaga pemerintah dan ketatanegaraan (Majelis Permusyawaratan Rakyat), unsur singkatan nama gelar (Dr.), pangkat (S.Sos), dan sapaan (Prof.), kata sapaan penunjuk hubungan kekerabatan (Besok Paman akan datang), dan kata ganti ‘Anda’. Yang pasti perlu diingat, huruf kapital tidak pernah diletakkan di tengah kata (MataQu BerKuNanG, dll).

Angka hanya digunakan untuk menunjukkan waktu (pukul 12.00), jangka waktu (2.30.20 jam, dibaca 2 jam 30 menit 20 detik), besaran jumlah (12.500 kepala keluarga), bukan jumlah (misalnya no telpon seluler 08179141419), dan urutan (no urut 1). Angka tidak digunakan untuk menggantikan sebuah huruf, misalnya s4ya, t3g4, tol0n6, 9an99u, 5uk4, dll. Selain angka, tanda baca ‘seru (!)’ juga tidak bisa digunakan sebagai pengganti huruf ‘i’ pada kata ‘h4t!’. Memang sih, hampir mirip. Bedanya hanya pada peletakan tanda ‘titik’.

Yang lucu juga tentang pemotongan huruf dalam sebuah kata. Memperpendek karakter, tapi memburamkan arti. Belum tentu semua orang mengerti cara membacanya. Coba lihat beberapa contoh berikut: ‘cara’x’, ‘ju2r’ dan ‘nal’. Kata pertama berarti ‘caranya’, kata kedua berarti ‘jujur’ dan kata ketiga berarti ‘kenal’. Aduh-aduh…

Lebih gaul dan meremaja. Itulah alasan mereka mengapa menulis dengan cara seperti itu. Gaul dari mana, ya? Jika diamati, kita seperti masuk ke dalam budaya baru. Budaya menulis acak adut. Seharusnya kita mengerti dengan baik cara menulis dan urutan struktur menulis dalam Bahasa Indonesia. Begitu juga dengan huruf-huruf yang dipakai dalam sebuah kata. Lagipula, menulis dengan gaya seperti itu terkadang justru membuat pembacanya menjadi pusing. Kalau sudah begitu teori komunikasi yang menyebutkan bahwa pesan disampaikan dari komunikator ke komunikan dengan satu penafsiran tidak akan berlaku di kasus ini. Boro-boro mengerti pesannya, membaca saja sudah sulit. Selain itu, menulis merupakan salah satu cara menyampaikan pesan. Tapi kalau tulisannya saja sudah membingungkan, apa iya pesannya sampai? Yang pasti komunikasi akan jadi tidak efektif.

Yah, siapa pun mereka, para remaja, adalah suatu fase yang menyenangkan. Bebas, ceria, kreatif dengan caranya masing-masing, penuh semangat, dan positif. Biarkanlah mereka berkreasi sesuka hati. Tapi mungkin mereka hanya harus belajar lagi cara menulis dalam struktur Bahasa Indonesia yang baik. A9aR tuL!saN m3rekA muDah diMen9ert! oLeh baNyak 0ran9.