Menjadi wanita memang sesuatu yang menyenangkan, tetapi terkadang ada beban sendiri untuk menjadi seorang wanita. Menyenangkan tentunya karena kita diberi kemuliaan untuk melahirkan dan menyusui, selalu diberi tempat duduk jika berada di kendaraan umum, tidak pernah diberi pekerjaan yang berat, mengalami siklus bulanan yang ‘membebaskan’ kita untuk marah-marah pada orang yang terpaksa maklum, dll.

Tetapi disisi lain, terkadang tercipta beban sendiri untuk menjadi wanita. Wanita selalu dituntut untuk tampil ‘cantik’. Kenapa kata cantik disini saya beri tanda kutip? Karena kata cantik ini begitu seragam dan terkadang tidak menampilkan arti cantik itu sendiri. Wanita dicekoki fakta bahwa wanita cantik adalah wanita yang berkulit putih bersih, berbadan ramping (bahkan mendekati kurus), kulit muka yang halus, berambut panjang hitam terurai, dan berpayudara besar. Tentu tidak semua wanita memiliki kriteria itu, kan? Dan inilah letak beban terbesar wanita. Bagi mereka yang tidak memiliki kriteria di atas langsung men-judge bahwa dirinya sendiri tidak masuk kategori cantik. Mereka kemudian beramai-ramai untuk merubah dirinya agar bisa menjadi ‘cantik’.

Satu hal yang harus amat kita sadari bahwa semua wanita itu dilahirkan menjadi cantik. Tak terkecuali. Klisenya, Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi diri kita. Dia sudah memberikan ‘perabotan’ di tubuh kita sebagai yang terpantas. Tapi tak bisa dihindari bahwa paradigma cantik seperti kriteria di atas sudah terpatri lekat pada diri tiap wanita. Apalagi ditambah dengan efek media massa yang ‘menjustifikasi’ kriteria itu.

Sesuai dengan teori komunikasi “Cultivation Analysis Theory” dimana media massa menanamkan terus menerus suatu keadaan, maka keadaan itu akan dianggap sebagai sesuatu yang benar dan harus diikuti oleh semua masyarakat. Contohnya seperti kasus ini. Semua media massa mengedepankan wanita dengan kriteria diatas sebagai wujud wanita cantik. Terang saja ini membuat banyak wanita yang merasa dirinya tidak masuk dalam kriteria tersebut kocar-kacir. Mereka menganggap dirinya tak menarik, tidak cantik, bahkan tidak sedikit yang menjadi minder. Sangat disayangkan sekali. Belum lagi ditambah dengan pandangan masyarakat yang kemudian ikut menjustifikasi pendapat ‘cantik’ yang digembar-gemborkan media massa.

Fenomena inilah yang kemudian membuat banyak sekali bermunculan produk-produk kecantikan wanita yang menjanjikan akan membuat wanita lebih ‘cantik’. Sebutlah krim pemutih muka dan badan ( yang terdiri dari ribuan merk dan berbagai macam negara asal itu ), salon-salon kecantikan, krim pembesar payudara, hair extension, pil dan obat pelangsing badan, akupuntur, hingga produk makanan dan minuman yang dipercaya bisa mempercantik ragawi.

Cantik itu mahal dan sakit. Entah kenapa saya jadi setuju dengan kalimat itu. Bagaimana tidak? Coba bayangkan, seorang wanita rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membuang lemak, memasang hair extension, operasi ini itu, bahkan memasang silikon dibagian vital tubuhnya. Kemudian bayangkan lagi jika seorang wanita ‘bentuknya’ justru jadi tidak karuan setelah menjalani operasi atau menanam silikon di payudaranya, bukannya senang, mereka justru makin depresi akan ‘ketidakcantikannya’. Bahkan tidak sedikit wanita justru meninggal setelah memasang silikon. Wanita juga rela diet seketat mungkin untuk menjadikan tubuhnya langsing. Akibatnya, mereka justru masuk rumah sakit karena kekurangan salah satu gizi penyeimbang kesehatan tubuh. Wanita juga jadi rela meminum aneka macam pil pelangsing tubuh yang justru menjadikannya lemas kekurangan cairan. Bukankah ini menjadi suatu yang ironis?

Hal lain yang membuat terkejut adalah ketika Badan POM beberapa waktu lalu menyita puluhan produk kecantikan di mana dalam razia itu terselip 2 merk produk kecantikan terkenal yang saya yakin banyak digunakan oleh Anda. Kemudian muncul juga berita ditangkapnya seorang (yang mengaku) dokter ahli kecantikan. Lucunya, ternyata pelanggannya adalah artis-artis dan model papan atas dan istri-istri pejabat. Terungkap bahwa dokter gadungan itu hanyalah seorang lulusan SD yang (nekat) membuka praktek ilegal dokter kecantikan. Yang lebih mengejutkan lagi, ia mengaku bahwa selama ini menggunakan silikon cair palsu!

Perlu diketahui bahwa silikon cair penggunaannya sudah dilarang sejak 1970 karena bisa menyebabkan alergi, infeksi, menyulitkan deteksi kanker/tumor, bahkan kematian (seperti yang terjadi pada beberapa wanita)! Apalagi silikon cair palsu bukan? Dari kasus ini makin terlihat bahwa saking ingin tampil cantiknya, wanita melupakan faktor keamanan, kesterilan, kesehatan tubuhnya, bahkan nyawanya sendiri.

Dari ulasan ini saya hanya ingin mengajak wanita untuk berpikir lebih pintar dan bijaksana. Menjadi cantik itu boleh, tapi gunakanlah jalan yang lebih aman. Jalan pintas hanya akan menjadikan kecantikan anda sepintas pula. Gunakanlah cara yang aman, tepat dan menyehatkan. Misalnya diet dengan pengawasan dokter ahli gizi, berolahraga rutin, menyantap makan yang sehat, merawat diri secara wajar dan rutin (misalnya dengan lulur, masker, dll), dan jika ingin melakukan bedah plastik pastikan dokter yang anda kunjungi memiliki izin praktik resmi dan benar-benar dokter lulusan bedah plastik. Jangan mudah tertipu dengan harga murah dan tempat yang bonafid. Selain itu usahakan carilah informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang jenis obat yang digunakan untuk perawatan tubuh Anda.

Sekali lagi saya ingin mencoba mengingatkan bahwa semua wanita itu cantik, tidak ada manusia yang sempurna, dan Tuhan sudah memberi yang terbaik untuk Anda karena Dia yang menciptakan Anda. Belum tentu Anda akan lebih cantik dengan kulit yang putih atau dengan payudara yang besar, bukan? Lebih baik maksimalkan inner beauty Anda, karena inner beauty tidak pernah bohong. Buat Anda para wanita di luar sana, jadilah wanita yang sehat dan pintar!

Melisa Bunga Altamira
23 Juni 2009